Penyalahgunaan Narkoba, Kerugian dan Sanksi Pidana bagi Pengguna


Jambi – Berita21: Apa itu, Narkoba. Istilah Narkoba, sesuai dengan Surat Edaran Badan Narkotika Nasional (BNN) Nomor.SE/03/IV/2002, yang merupakan akronim dari NARkotika, psiKOtropika, dan bahan Adiktif lainnya. Narkoba, yaitu zat-zat alami, maupun kimiawi yang jika dimasukkan ke dalam tubuh dapat mengubah pikiran, suasana hati, perasaan dan perilaku seseorang.

Sedangkan Narkotika, adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman. Baik sintetis maupun semi sintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Adapun pola-pola pemakaian narkoba banyak penyebabnya, yaitu pola coba-coba, pola pemakaian sosial, pola pemakaian situasional, pola habituasi (kebiasaan), serta pola ketergantungan (kompulsif).

Berikut ini, dapat diuraikan lebih jelas, bagaimana pola-pola pemakaian narkoba di kalangan pengguna.

1. Pola Coba-coba. Penyebabnya karena ingin tahu atau iseng saja, pengaruh tekanan kelompok sebaya, tidak mampu berkata tidak untuk narkoba, dan ketidakmampuan berkata ‘tidak’ sehingga mendorong anak untuk mencobanya apalagi jika ada rasa ingin tahu, atau ingin mencoba.

2. Pola Pemakaian Sosial, yaitu pemakaian narkoba untuk tujuan pergaulan (berkumpul dalam acara tertentu) agar diakui, atau diterima dalam suatu kelompok.

3. Pola Pemakaian Situasional, yaitu karena situasi tertentu misalnya stres, kesepian, ada masalah tentang dirinya yang berat, dan yang lainnya. Selain itu, merupakan ‘paham instrumental’. Karena dari pengalaman pemakaian sebelumnya disadari, bahwa narkoba dapat menjadi alat untuk mempengaruhi, atau memanipulasi emosi, atau suasana hatinya. Disini pemakaian narkoba telah mempunyai tujuan sebagai cara untuk mengatasi masalah. Tahap ini, pemakai berusaha memperoleh narkoba secara aktif.

4. Pola Habituasi (Kebiasaan), yaitu suatu pemakaian penyalahgunaan narkoba, yang dilakukan sudah menjadi suatu kebiasaan. Hal tersebut menyebabkan berpengaruh pada pada perilaku seperti sensitif, mudah tersinggung, pemarah, sulit tidur, sulit berkonsentrasi dan lainnya.

5. Pola Ketergantungan, yaitu suatu keinginan yang kuat untuk memakai narkoba secara berulang-ulang. Sulit untuk mengendalikan pemakaian narkoba, terjadi gejala putus zat apabila jika pemakaiannya dihentikan atau dikurangi. Gejala Putus Zat, yaitu gejala yang timbul, jika pemakaian dihentikan maka akan timbul rasa sakit, nyeri yang luar biasa, denyut jantung bertambah cepat, badan gemetaran, dan sebagainya.

Untuk diingat, akibat penyalahgunaan narkoba maka dapat merugikan bagi diri sendiri, bagi keluarga, bagi sekolah, bagi masyarakat, bangsa dan negara.

1. Kerugian bagi Diri Sendiri. Diantaranya terganggunya fungsi otak dan perkembangan normal remaja, seperti daya ingat lemah, sulit berkonsentrasi, dan motivasi rendah. Apabila keracunan (intoksikasi) yaitu gejala yang timbul akibat pengaruh narkoba dalam tubuh maka dapat fly, mabuk, atau teler. Bisa juga si pemakai mengalami ‘Over Dosis’ atau OD sehingga dapat menyebabkan kematian karena terhentinya pernapasan dan pendarahan pada otak.

Disamping itu, apabila Gejala Putus Zat, yaitu gejala ketika dosis yang dipakai dikurangi atau dihentikan maka dapat menyebabkan kejang perut, muntah, mencret, menggigil, hidung berair, dan sebagainya. Berulang kali kambuh, gangguan perilaku atau mental asosial seperti sikap acuh tak acuh atau cuek, sulit mengendalikan diri, mudah tersinggung, dan sebagainya.

Gangguan pada kesehatan, yaitu kerusakan atau gangguan fungsi organ tubuh, seperti hati, jantung, paru- paru, ginjal, alat reproduksi, dan lainnya. Kendornya nilai-nilai agama, sosial, budaya, seperti seks bebas, sopan santun hilang dan lainnya. Keuangan dan hukum, yaitu keuangan menjadi kacau dan terkena juga sanksi hukum pidana kurungan di sel penjara yang pengap.

2. Kerugian bagi Keluarga. Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga menjadi terganggu. Keluarga menjadi resah karena barang-barang berharga di rumah banyak yang hilang. Berani berbohong, menipu, bersikap kasar, cuek dengan urusan keluarga, tidak bertanggung jawab dan sebagainya. Orangtua menjadi malu karena memiliki anak pecandu, merasa bersalah tapi juga sedih dan pemarah. Orangtua jadi putus asa karena masa depan anaknya tidak jelas. Si Anak jadi putus sekolah, atau menganggur karena dikeluarkan dari sekolah, stres meningkat, ekonomi keluarga jadi morat-marit.

3. Kerugian bagi Pelajar/Mahasiswa. Narkoba dapat merusak disiplin dan motivasi belajar. Dapat mengganggu suasana belajar di kelas. Dapat menurunkan prestasi belajar secara drastis. Dapat menyebabkan kenakalan, tawuran dan putus kuliah. Dapat mengganggu keamanan dan kertertiban di masyarakat (kamtibmas).

4. Kerugian bagi Masyarakat, Bangsa dan Negara. Mafia perdangan gelap selalu berusaha memasok narkoba ke negeri tercinta ini. Mereka para sindikat internasional di dalam negeri menjalin hubungan antar pengedar, sehingga tercipta pasar gelap (black market). Sekali pasar gelap terbentuk, sulit sekali memutus mata rantai peredarannya. Masyarakat tidak memiliki daya tahan sehingga pembangunan akan terancam. Negara menderita kerugian karena masyarakat tidak produktif dan tingkat kejahatan semakin meningkat dan meresahkan sehingga mengancam keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketentuan Pidana dan Rehabilitasi

Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor.35 Tahun 2009, Pasal 119 ayat (2), disebutkan; Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan II sebagaimana dimaksud pada ayat (1), beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun, dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga). Dapat disimpulkan bahwa di dalam Ketentuan Pidana, hukuman terberat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor.35 Tahun 2009, dalam Pasal 119 ayat (2).

Sedangkan di dalam ketentuan Rehabilitasi, bahwa Rehabilitasi dalam Pasal 54, disebutkan; Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Pasal 55 ayat (1), disebutkan Orangtua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Sedangkan Pasal 55 ayat (2), dikatakan; Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

(Disampaikan oleh Kombes Polisi Drs. Kristono, Dir. Binmas Polda Jambi saat Sosialisasi Seminar Nasional Wawasan Kebangsaan di Hotel Safera Jambi, Desember 2011)

Afrizal/B21
About these ads