Buku: Jangan Biarkan Anak Jadi Teroris


Review Buku, Judul: Jangan Biarkan Anak Jadi Teroris;Tinjauan Ilmu kedokteran Saraf Modern, Islam Moderat dan Budaya Jawa.

BOM! Sesuatu yang sangat mengerikan terjadi akhir-akhir ini, dan kerap kita dengar dari segala pemberitaan aneka mass media di tanah air. Rasanya, ingin sekali semua ini berakhir, dan kita semua kembali berada dalam era yang damai, dan tenang. Itulah harapan semua orang, termasuk saya.

Suatu era dimana orang tua, dapat dengan tenang mendidik putra-putrinya, sesuai dengan bakat dan minat masing-masing hingga sampai pada hal yang dicita-citakan –yaitu menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Demikian pengantar dari saya, diperuntukkan bagi kepercayaan diri suatu bangsa, yaitu bangsa Indonesia yang cinta damai.

Namun, semua itu kini terusik. Betapa tidak?, orang tua mana yang merasa tenang ketika mendengar berita –bahwa pelaku, yakni M. Syarif, pelaku bom bunuh diri di Masjid Polres Kota Cirebon, pada hari jelang Sholat Juma’t, 15 April 2011 lalu –adalah masih tergolong kanak-kanak, dalam artian batas usia dibawah 21 tahun?

Apa yang salah, dalam mendidik anak sehingga sang anak tega berbuat sedemikian keji.Tentu semua orang, akan terheran-heran dengan jejalan beribu pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab.

Buku ini –berusaha mengkaji dari sudut pandang Ilmu Kedokteran, khususnya Neurobehaviour dalam disiplin Ilmu Penyakit Saraf (Neurologi). Budaya di Indonesia, terutama dalam budaya Jawa dan Islam moderat. Sasaran buku ini, terutama adalah keluarga sebagai satuan terkecil dari Negara.

Buku ini, memberikan panduan pola pikir untuk membantu peran Pemerintah –dalam hal ini, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) –yang sedang menghadapi masalah berat dalam menanggulangi terorisme dan radikalisme, yang saat ini tumbuh subur di negeri Nusantara ini.

Melalui buku ini, penulis berusaha mengupas sisi Kedokteran Saraf Modern dalam hal agresivitas yang mendasari aktivitas ‘teror’. Juga, penulis berupaya menginvetarisir nilai-nilai budaya Jawa yang luhur, disertai kupasan dari sudut Ilmu Saraf Modern, yang berguna untuk menghambat, mencegah, menghentikan penyebaran paham-paham dan ajaran radikal, yang berujung kepada perusakan dan penghancuran umat manusia.

Budaya, hasil olah pikir manusia Jawa merupakan nilai kearifan lokal yang memberikan identitas, dan sesuai dengan ajaran agama Islam, tentu juga jangan sampai hilang dan digusur oleh paham-paham yang sebenarnya bukan bagian dari ajaran Islam, namun menggunakan kedok Islam.

Para pembaca yang budiman, dapat kita lihat bahwa bila nilai-nilai luhur budaya yang sesuai dengan ajaran Islam yang moderat, diterapkan dengan pola pikir yang benar, harus berujung pada kalimat “Rahmatan Lil Alamin”, yakni Rahmat bagi seluruh Alam.

Artinya, pada kalimat tersebut ditegaskan kata ‘Alam’ –jadi bukan saja manusia, namun alam sekitar, dan tata lingkungan yang sudah baik dan teratur harus dijaga.

Dalam buku ini, dibahas sebagian besar adalah penanaman nilai-nilai budi pekerti luhur (yang saat ini tidak diajarkan secara khusus) di sekolah-sekolah. Nilai-nilai yang berasal dari kultur moderat. Tentu, moderat disini –berarti menengah, seimbang, proporsional, tidak ekstrim yang cenderung menyerang terhadap kelompok lain yang berbeda keyakinan.

Nilai-nilai ini sudah ada, mungkin setiap orang tua pernah mendengar atau menerima ajaran-ajaran Humanisme namun jarang mengulang-ulang, membaca, menegaskan, dan menjabarkan manfaatnya.

Nilai-nilai ini, sangat berguna untuk menekan agresifitas otak, melalui pendidikan norma yang diajarkan secara logis sehingga membekas di hati penerimanya. ‘Sirkuit Papetz’ di otak manusia (kaitan antara emosi dan memori) yang dibahas dalam buku ini, juga bisa digunakan dalam memperkuat penanaman memori budi pekerti. Semoga buku ini bermanfaat bagi setiap orang tua di negeri ini. Amin Yaa Robbal ‘Alamin.

EPILOG : Teror dan penyebaran paham radikal semakin menjadi-jadi. Ketegasan dan kesiap-siagaan Pemerintah selalu maksimal. Namun, teror tetap terjadi. Lalu, dimulai dari manakah proses penghentian radikalisasi ini? Tentu jawabannya, adalah dimulai dari keluarga dan lingkungan kita sendiri, terutama anak-anak kita.

Semoga buku ini dapat membuka wawasan, menambah strategi dalam menghadapi radikalisme, memberikan panduan deradikalisasi dan deteksi dini dari segala unsur-unsur atau paham asing –yang memicu kehancuran bangsa dan Negara. Sekaligus juga, dapat mengatasi ‘Teror Ideologi’ dengan memperkuat kepribadian, dan jati diri bangsa. (dr. Arman Yurisaldi Saleh, MS, SpS, adalah seorang pakar Neorologi, dokter spesialis saraf yang kini berkerja di National Health Service Jakarta).

Penulis:  dr. Arman Yurisaldi Saleh,MS,SpS.

Editor: Iqbal Aji Daryono.

Penerbit: Titano Kreativindo, Jogjakarta.

Sumber: Berita21.com

Afrizal/B21
Iklan