Royalti Untuk Amal


Tidak banyak penulis buku yang sudah berpayah payah menuangkan isi “otaknya” namun ujung ujungnya untuk beramal. Barangkali baru satu orang yang menerapkan prinsip ini.

Dialah Gunawan Marga, penulis buku Secangkir Teh Hangat Kedamaian (menemukan keindahan dibalik remeh temeh). Pria asal Temanggung yang sehari harinya karyawan di Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah ini menuangkan niat mulia untuk membantu kepada sesama melalui tulisannya.

Penjualan dari buku ini atau royaltinya kelak akan digunakan untuk mereka yang membutuhkan. “Ya, ,mencoba belajar memberi, meskipun belum bisa banyak. Namun dari hasil penjualan buku ini semoga bisa meringankan mereka yang membutuhkan,” ungkap Gunawan saat dihubungi di ruang kerjanya, Jumat (20/5).

Buku Secangkir Teh Hangat Kedamaian ini mendapat apresiasi yang cukup membanggakan dari beberapa tokoh yang selama ini bergelut dengan karya sastra dan kemanusiaan.

Membaca buku ini, seperti orang sedang mudik, pulang ke kampung, pulang ke hulu kehidupan. Setelah baca buku ini, orang akan kembali segar, kembali ke spirit kehidupan. Buku ini pantas dibaca, isi kandungannya bisa menjadi sangu menuju masa depan yang penuh tantangan. Buku ini mengingatkan kita pada sebuah adagium: Aja Lali Marang Sangkan Paraning Dumadi
Demikian Daliso Rudianto, Budayawan Yogyakarta memberikan testimoni untuk buku ini.

Kepala Vihara Mendut, Magelang, Sri Pannyavaro lain lagi dalam memberi komentar buku setebal 167 halaman yang sudah bisa didapatkan di toko-toko buku ini. Kehidupan ini tidak pernah selesai untuk dibaca. Tiap orang mengalami kehidupannya sendiri, tetapi tidak semua mampu membacanya.
“Gunawan membaca kehidupan dengan baik. Sekalipun peristiwa itu sederhana, tetapi sesungguhnya tidak ada hal yang remeh. Semuanya mempunyai nilai sangat berharga bagi kita,” kata Sri Pannyavaro.

Biksu ini juga menambahkan bahwa Gunawan membaca dan menimba kearifan dari kehidupannya, menuliskan, dan menyajikan untuk kita. Buku ini menjadi seperti cermin yang juga mengajak kita untuk membaca sendiri kehidupan kita. “Tetapi, buku ini tidak boleh hanya sekali saja dibaca,” tegasnya.

Ada lima tema yang dikemas dalam buku ini, yaitu perenungan tentang Belajar; Sisi Buruk; Cermin; Kebiasaan dan Menghargai.
Lain lagi dengan yang disampaikan oleh Prie GS, budayawan sekaligus motivator yang tinggal di Semarang, menurutnya butuh waktu 20 tahun bagi dia untuk menulis buku Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia (Gramedia Pustaka Utama). Artinya, saya yang menekuni dunia tulis-menulis pun, butuh waktu selama itu untuk menghasilkan sebuah buku.

“Menulis yang berat bagi seorang penulis itu, ternyata tidak bagi Gunawan Marga yang pegawai negeri ini. Ia enak saja menulis sembarang tema tentang soal-soal sederhana, soal yang juga saya minati, tetapi membutuhkan waktu demikian lama untuk menjadi buku,” ujar Prie GS.

Apa artinya? Menulis itu sesungguhnya lebih pada urusan hati ketimbang urusan teknik. Jika hati sudah bicara, teknik akan mengikuti. Gunawan mengikuti bahasa hati itu untuk merekam apa saja terutama soal-soal yang kerap terlewat karena dianggap sederhana. Gunawan meyakinkan kepada pembacanya, betapa soal yang sederhana itu tidak ada. Setiap soal adalah soal luar biasa begitu ia dirawat, ditafsir dan diberi atensi. Semua soal adalah kekayaan hidup yang siapa saja boleh memungutnya tak peduli ia penulis, tak peduli ia pegawai negeri.
Untuk belajar tidak harus di bangku sekolah atau tempat kuliah, tempat kursus atau les. Oleh Pak Gunawan kita diajak untuk belajar dari kehidupan. Dengan bahasa yang tidak njlimet, memudahkan kita mencerna pelajaran dari “Sang Guru Kehidupan”

Kholis/B21

Sumber: Berita21.com

Iklan