Inilah Goa “Surga” Manusia Purba


Pada masa glasiasi akhir (last glacial maximum) sekitar 18.000 tahun lalu, permukaan air laut di bumi turun drastis. Sebagian volume air laut terperangkap menjadi es di daerah kutub akibat proses pendinginan luar biasa. Karena perubahan lingkungan ini, manusia purba yang dulu hidup di daerah sabana kemudian beralih ke daerah tertutup atau goa-goa untuk berlindung. Goa lantas menjadi surga bagi manusia purba.

Hipotesis tentang fenomena keberadaan manusia purba yang menghuni ceruk-ceruk goa karst mendapat sepercik petunjuk dengan ditemukannya tulang-belulang manusia, mata panah, dan kerangka monyet (Macaca sp) di sejumlah goa di Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

Pada umumnya mereka tinggal di ceruk-ceruk mulut goa karst Pegunungan Sewu yang berjajar mulai dari Wonosari, Gunung Kidul, hingga Pacitan, Jawa Timur.

Tim Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, bersama Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 2001 hingga 2008 menelusuri Song (ceruk goa) Bentar dan Song Blendrong di Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul. Di dasar ceruk goa ditemukan kerangka manusia, peralatan makan dari tulang, dan tulang-tulang monyet.

Karena banyaknya penemuan tulang-belulang monyet, diduga manusia purbakala waktu itu memiliki keterikatan erat dengan primata tersebut. Ada dua dugaan yang muncul. Pertama, monyet merupakan hewan buruan dan kedua hewan itu menjadi medium ritual pemujaan kepada leluhur.

”Diduga dahulu kala ada ritual pemujaan kepada leluhur melalui monyet. Apabila hewan dikonsumsi atau dimakan, tengkorak kepala biasanya dipecah. Namun, tengkorak monyet yang ditemukan ini cukup utuh,” kata arkeolog UGM, Daud Aris Tanudirjo.

Tahun 2008, penelitian kembali dilakukan di Song Tritis, Kecamatan Rongkop, Gunung Kidul. Di ceruk goa tersebut ditemukan kembali peralatan berburu serupa, seperti tulang dan mata panah batu.

”Kerangka manusia yang ditemukan secara fisik dan anatomi seperti manusia modern. Budaya berburu mereka juga cukup maju karena telah menggunakan mata batu dan tulang,” ucapnya.

Selain hidup di ceruk-ceruk goa, manusia purba juga beraktivitas di sekitar pantai. Di Goa Jrebeng di dekat Pantai Kukup, misalnya, ditemukan tulang hewan besar dari famili Bovidae, seperti banteng dan badak, yang diduga merupakan hewan-hewan buruan manusia purba.

Menurut Daud, ilmuwan Junghuhn yang pernah berkunjung ke Gunung Kidul pada tahun 1800-an dalam beberapa artikelnya menyebutkan, ia sempat melihat hewan-hewan tersebut di sana.

Dilihat dari banyaknya penemuan jejak aktivitas manusia purba di sejumlah goa, diperkirakan pola pergerakan kehidupan manusia purba saat itu adalah seminomaden, di mana goa-goa menjadi tempat sentral untuk berkumpul. Sebab, goa merupakan tempat strategis untuk berlindung dari panas.

Berdasarkan penemuan secara terpadu di goa-goa kawasan Gunung Kidul, terdapat beberapa kekhususan yang ditemukan dari aktivitas manusia purba di sana. Beberapa hal khusus yang ditemukan adalah adanya praktik penguburan, perburuan dengan alat, adaptasi daerah berhutan dengan berlindung di dalam goa, ritual, dan perburuan monyet.

Praktik penambangan

Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul hingga saat ini baru mendata 119 goa karst. Diperkirakan masih banyak goa yang belum terdata.

Ironisnya, di goa-goa tempat ditemukannya jejak manusia purba justru terjadi aktivitas penambangan fosfat dan kalsit secara masif. Beberapa goa yang ditambang adalah Goa Lawa dan Song Bentar di Kecamatan Ponjong.

”Timbunan kotoran kelelawar yang berlangsung bertahun-tahun kini dieksploitasi tanpa terkendali. Goa-goa di Kecamatan Ponjong dan Panggang mengalami kerusakan parah akibat penambangan ini,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunung Kidul, Surya Aji.

Setelah melakukan pengamatan dan penelitian, akademisi sekaligus peneliti UGM pernah mengusulkan kepada masyarakat setempat agar menghentikan aktivitas tambang dan mencari mata pencarian lain dengan mengembangkan potensi wisata goa. Sebab, di samping menghapus peninggalan bersejarah, penambangan juga mengakibatkan erosi dahsyat di saluran air bawah tanah.

Hasil penelitian para arkeolog UGM menunjukkan, goa-goa dan sungai bawah tanah di sekitar Kecamatan Ponjong ternyata berhubungan dengan Goa Bribin di Kecamatan Semanu, Gunung Kidul. Jika penambangan tak dihentikan, dikhawatirkan erosi dari hasil tambang akan menyumbat proyek sumur bawah tanah di Goa Bribin tersebut.

Kini, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul sedang berusaha keras mengajak masyarakat memanfaatkan potensi alam setempat untuk pariwisata. Namun, hingga sekarang masih juga berlangsung penambangan di sejumlah goa karst Gunung Kidul.

”Kami sedang membina kelompok-kelompok masyarakat yang ada untuk membentuk pariwisata berbasis masyarakat. Kalaupun ada investor, mereka juga harus bekerja sama dengan kelompok-kelompok masyarakat dan hasilnya harus ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Surya.

Daud menambahkan, bagaimanapun, praktik penambangan tak akan mendatangkan keuntungan, tetapi justru kerugian. Sebab, pemasukan yang didapat tak sebanding dengan kerugian alam luar biasa yang tak bisa diperbaiki dalam jangka waktu pendek.

Yang lebih parah, penambangan akan menghapus segala macam jejak peninggalan bersejarah yang tercecer di goa-goa karst Gunung Kidul. Artinya, tabir sejarah yang baru sedikit terungkap itu akan hilang tak berbekas karena rusaknya ”surga-surga” manusia purba Gunung Kidul itu.