Siswa Miskin Berjualan Takjil


Bu, kolak bu. Yang pakai es atau angetjuga ada,” kata siswa kelas 3 SD Juara Semarang di Jalan Pahlawan Semarang, Jumat (5/8/2011).

Seorang laki-laki pejalan kaki datang menghampiri. “Namanya siapa?” tanya laki-laki itu. “Yunisa pak. Sekalian martabak kurma ya?” Yunisa kembali memberi tawaran. Transasksi selesai saat bapak itu mengangsurkan uang Rp 2.000 buat sebungkus kolak.

Sore ini, Yunisa menjadi bintang dalam bussines day SD Juara Semarang. Dalam durasi 30 menit Yunisa berhasil mengumpulkan uang hingga Rp 20 ribu. Melampaui teman-temannya.

Menurut Joko Kristiyanto, Kepala SD Juara Semarang, kegiatan berjualan takjil ini merupakan salah satu upaya membangkitkan semangat enterpreneurship anak sejak dini. Meski sore ini, hanya dikhususkan bagi siswa kelas 3 dan 4 saja.

“Biasanya setiap bulan kami mengadakan bussines day yang melibatkan semua siswa. Tapi hanya di lingkungan sekolah saja. Sedangkan ini ada di luar, jadi hanya siswa kelas 3 dan 4,” tambah Joko.

Dalam bussines day, biasanya yang dijual adalah produk siswa sendiri. Pihak sekolah hanya memfasilitasi saja. Dengan demikian, uang yang didapat tetap dipegang anak-anak sendiri. “Kami berharap langkah ini bisa menginspirasi wali murid untuk mandiri melalui ide anaknya,” kata Joko.

SD Juara adalah satu-satunya sekolah inklusif bagi warga miskin yang diselenggarakan secara gratis. Baik SPP, seragam, peralatan sekolah, maupun makan siang dan buku pelajaran, tak serupiah pun wali murid mengeluarkan uang. Sedangkan siswa siswi yang bersekolah juga bervariasi, mulai dari anak pengemis, penganggur, tukang becak, dan lain-lain.

Berita21.com