Bakteri Usus Penentu Stres


Sebuah studi terbaru menunjukkan kumpulan bakteri jenis tertentu di dalam perut ternyata menentukan tingkat stres. Benarkah?

Seorang peneliti dari Universitasy College, Javier Bravo melakukan penelitian terhadap bakteri yang mendiami perut mencit. Ia membagi obyek penelitian pada dua kelompok mencit.

Kelompok pertama diberikan bakteri Lactobacillus rhamnosus yang berdiam di usus dan banyak ditemukan pada yogurt dan makanan lainnya. Kelompok kedua diberikan asupan seperti biasa tanpa diberi mikroba khusus.

Ia kemudian menjadwalkan serangkaian pengujian rutin yang mengukur tingkat emosi mencit. Mencit-mencit dari dua kelompok ini umumnya
menunjukkan kondisi emosi berbeda.

Rangkaian pengujian pertama melibatkan labirin dengan terowongan terbuka dan tertutup yang harus ditempuh binatang pengerat agar bisa mendapatkan hadiah makanan.

Hasilnya, mencit yang diberi Lactobacillus dua kali lebih sigap menyelesaikan persoalan, menunjukkan rasa tingginya percaya diri dan sedikitnya rasa cemas.

Pengujian selanjutnya terdiri dari wadah berisi air. Mencit harus berenang di dalamnya. Mencit yang memakan bakteri usus berupaya berenang lebih lama ketimbang mencit normal sebelum dia menyerah dan harus diselamatkan. Keteguhan seperti itu diinterpretasikan sebagai suasana hati yang positif.

Peneliti juga mengukur aktivitas otak mencit sebagai efek perilaku ini. Hormon stres yang dikenal sebagai corticosterone pada tikus yang mengasup Lactobacillus lebih rendah dibandingkan tikus normal, sehingga mereka lebih tahan terhadap tekanan.

Sementara dengan asam gamma-aminobuyric yang meredam aktivitas tertentu pada sel saraf bervariasi pada kedua kelompok mencit.

Temuan signifikan lain terjadi ketika Bravo memotong jaringan saraf penghubung perut dan otak.

“Pemotongan ini membuat perbedaan suasana hati pada kedua kelompok menghilang,” katanya.

Ide mikroba usus yang mempengaruhi suasana hati binatang sering dianggap tak lazim. Namun selalu ada peluang akan kebenaran anggapan

ini, termasuk melalui penelitian Bravo. Meski demikian Bravo bersama rekan-rekannya belum mengetahui secara persis mekanisme yangmenyebabkan efek ini.

Hasil penelitian bakteri usus penentu suasana hati binatang ini diharapkan bisa diperluas pada manusia.

IC/B21