Alasan Kuat Pemberian Gelar Adat Melayu Jambi kepada SBY


Presiden Republik Indonesia, DR. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu malam lalu (21/09/2011) memperoleh gelar adat Melayu Jambi, begelar ‘Sri Paduko Maharajo Notonegoro’.
Pengukuhan gelar adat tersebut, dilakukan secara ritual adat oleh Ketua Lembaga Adat Melayu Jambi, Hasip Kalimuddin Syam begelar ‘Adipati Agung Mangkunegoro’ di Balairungsari Gedung Lembaga Adat Melayu Jambi, Kelurahan Sungai Putri, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.
Pada kesempatan yang sama, Ibu Negara, Ani Bambang Yudhoyono juga menerima penghargaan serupa gelar adat Melayu Jambi, begelar ‘Karang Setio’, yaitu berupa pemberian Liontin beserta pakaian adat kebesaran khas Melayu Jambi.
Mengomentari adanya pro dan kontra ditengah masyarakat, terutama para aktivis mahasiswa dan penggiat lembaga swadaya masyarakat di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini, terkait pemberian gelar adat kepada Presiden RI dan Ibu Negara dari Lembaga Adat Melayu Jambi.
Junaidi T. Noor, seorang pengamat budaya Jambi menjawab kepada berita21.com, ketika dihubungi lewat ponselnya, dia mengungkapkan kalau tidak besilang kayu ditungku nasi tidak kan masak, yang tidak boleh retak membawa pecah genting, membawa putus jadi perbedaan jangan membuat perpecahan.
 
Sabda Rasullullah SAW, yang artinya perbedaan pendapat di kalangan umatku merupakan rahmat.
 
Ditambahkan budayawan Jambi ini, papar Junaidi T. Noor, yang juga Staf Ahli Gubernur Jambi ini menerangkan, kecik benamo gedang begelar seloko adat Jambi.
 
Maknanya kecil, ada nama, ya disebut kalau sudah menjadi orang (pembesar) tentu layak dihargai dan dihormati dengan diberi gelar kehormatan apalagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah dua periode memimpin Negara Republik Indonesia, dan presiden pun pernah menjadi pembesar selaku Pangdam II Sriwijaya (yang membawahi keamanan wilayah teritorial Sumatera Bagian Selatan, yaitu Provinsi Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung dan Jambi, sekarang ini ditambah dengan pemekaran wilayah teritorial Provinsi Bangka Belitung,red).
Sehingga bak seloko adat bak kayu gedang di tengah padang, daunnyo rindang buat beteduh batangnyo. Tempat bersandar rantingnyo, tempat begantung akarnya, tempat bersimpuh, pergi tempat betanyo balik ke tempat beberito, demikian urainya dalam pesan pendek seraya berseloko adat Melayu Jambi yang sangat begitu khas, ketika menanggapi polemik penganugerahan gelar adat Melayu Jambi kepada Presiden SBY dan Ibu Negara, Ani Bambang Yudhoyono.
Pada prosesi pemberian gelar itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengenakan baju adat berwarna kuning, dipasangkan sebilah Keris dan selempang, serta merima surat pengukuhan. Pada saat tiba di Balairungsari Gedung Lembaga Adat Melayu Jambi, Presiden SBY terlebih dahulu menginjak kepala Kerbau yang dalam kepercayaan adat istiadat Jambi, diartikan sebagai tanda kemakmuran.
Seperti diungkapkan dalam situs resmi presiden, presidenri.go.id, disebutkan pemberian gelar adat Melayu Jambi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menurut Ketua Lembaga Adat Melayu Jambi, Hasip Kalimuddin Syam, pemberian gelar itu sangat memiliki arti penting sebagai pembesar utama diatas pembesar yang mengatur dan menertibkan penyelenggaraan negara.

“Memori masyarakat Jambi kepada SBY telah tertanam, sejak memegang amanah sebagai Pangdam II Sriwijaya, dengan pendekatan persuasif kultural dalam menjaga stabilitas hankam di wilayah Sumbagsel (Sumatera Bagian Selatan), serta besarnya perhatian beliau, terhadap pentingnya adat istiadat dalam menjalani hidup dan kehidupan,” terang Hasip Syam.

Presiden SBY dianggap tepat menerima gelar adat tersebut, karena selama menjabat sebagai presiden telah mengunjungi Bumi Sepucuk Jambi sembilan Lurah sebanyak dua kali, dan membuat perekonomian Jambi lebih maju. Dari segi keamanan pun terpelihara dengan baik. Selain itu Presiden SBY memiliki kedekatan emosional, karena pernah menjabat sebagai Pangdam II Sriwijaya.

Dalam sambutannya, Presiden SBY mengucapkan terima kasih atas pemberian gelar adat tersebut. Kepala Negara menggunakan pantun, salah satu ekspresi seni lisan khas Melayu, saat memberikan pidato sambutannya.

Bukit Barisan yang menjulang dan kokoh berdiri, surya dan rembulan setia tak putus menemani. Beta kenal dan punya kenangan indah tentang Jambi, masyarakatnya religius, berbudaya, dan cinta damai. Berlayar kapal di Selat Malaka, menyapa Kuala tungkal di lepas pantai. Rasa syukur beta berlipat ganda, menerima gelar adat melayu Jambi,” kata Presiden SBY dalam pantunnya.

Meliuk indah sang Sungai Batang Hari, hening syahdu bagai lantunan tembang sunyi. Betapa bahagia dan riang hati beta beserta isteri, kembali berkunjung ke tanah Jambi yang indah permai,” ujar SBY.

Malam itu selain menerima gelar adat, Presiden SBY juga meresmikan pembukaan Musyawarah Majelis Paripurna Lembaga Adat Rumpun Melayu se-Sumatera tahun 2011. Turut hadir dalam acara itu para jajaran menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, diantaranya yakni Menko Kesra Agung Laksono, Mensesneg Sudi Silalahi, Mendagri Gamawan Fauzi, Mendiknas Muhammad Nuh, Menhut Zulkifli Hasan, Menlut dan Perikanan Fadel Muhammad, Menbudpar Jero Wacik, Menkop dan UKM Syarief Hasan, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, dan Seskab Dipo Alam.

presidenri.go.id/Afrizal/B21
Iklan