Fenomena Kini, Kawasan Sumatera dijadikan Pintu Masuk Utama Narkoba


Banyak jalan menuju Roma, begitu bak pepatah mengatakan. Tak menyangkut urusan kebaikan, tapi pepatah ini juga sangat melekat dalam dunia bisnis gelap Narkoba.

Tertutup di jalur ini, bukan berarti tidak lolos di jalur lainnya. Setelah menjelajahi berbagai wilayah dan kawasan seluruh tanah air, justru kawasan di Kepulauan Sumatera, kini dijadikan target baru sebagai pintu masuk utama peredaran Narkoba oleh sindikat narkoba internasional di dalam negeri.

Sebagai contoh kasus, Kota Batam di Provinsi Kepulauan Riau pun kini dijadikan tempat hilir mudiknya penyelundupan Narkoba dari negara tetangga serumpun, Malaysia. Sebanyak 13.490 butir Ekstasi, ditemukan petugas Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam pada seorang Anak Buah Kapal (ABK) di Terminal Feri Internasional Batam Center, beberapa waktu yang lalu.

Tersangka, berinisial DO adalah ABK KM Sinar Bahari I, yang berlayar dari Tanjung Pengelih, Malaysia ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Usaha penyelundupan terbongkar saat barang bawaan ABK terdeteksi alat Sinar-X di Terminal Feri Internasional Batam Center.

Kasus ini menambah daftar panjang penyelundupan Narkotika dan Psikotropika dari Malaysia ke Indonesia, oleh jaringan sindikat narkoba internasional.

Seperti yang banyak diberitakan oleh mass media nasional, pemberitaan kompas, barang bukti berupa, Ekstasi, ditemukan dalam kemasan detergen, ditaksir nilainya mencapai Rp2,1 miliar.

“Tersangka, barang bukti, dan barang bawaan lainnya, sudah kami serahkan ke Poltabes (Kepolisian Kota Besar) Barelang, untuk proses penyidikan lebih lanjut,” papar Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam, Septia Atma.

Sebelumnya juga, upaya penyelundupan Narkoba jenis Shabu, juga dilakukan seorang perempuan berinisial FC, yang masuk Batam dengan menggunakan Kapal Pintas Samudera IX dari Pelabuhan Stulang Laut, Johor Bahru, Malaysia. FC (40), tertangkap membawa koper berisi Narkoba jenis Shabu seberat 3,5 kilogram, yang dibungkus dengan aluminium foil, yang nilainya ditaksir sekitar Rp7 miliar.

Jumlah ini, dapat merusak 17.500 anak bangsa negeri ini. Bayangkan, sudah di depan mata dampak kehancuran negeri ini akibat Narkoba, di masa yang akan datang.

Berdasarkan data dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Batam, 5 kasus serupa, usaha penyelundupan Narkotik terungkap selama Februari hingga April 2010. Semuanya terjadi di Terminal Feri Internasional Batam Center.

Kota Dumai, Provinsi Riau. Kota ini, juga punya cerita seram. Kawasan ini, telah menjelma menjadi pintu masuk utama Narkotika dan obat-obatan terlarang, atau Narkoba yang berada di wilayah kawasan Pulau Sumatera, melibatkan jaringan sindikat peredaran internasional di dalam negeri.

“Kita sangat prihatin melihat perkembangan terakhir, bahwa Pelabuhan di Dumai, telah menjadi pintu masuk utama sekaligus pintu masuk transit Narkoba dari luar negeri,” ujar Kepala Badan Narkotika Provinsi (BNP) Riau, Mambang Mit.

Berdasarkan data dan fakta di lapangan, dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, instansi terkait Bea dan Cukai serta kepolisian di Dumai, berhasil mengamankan kiloan gram Narkoba jenis Shabu, yang dibawa masuk melalui jalur laut dengan menumpang kapal feri dari Negara Malaysia.

Penangkapan dilakukan, pada 31 Januari 2010, pihak Bea dan Cukai bersama Polresta menggagalkan upaya penyelundupan Shabu, sebesar 174 gram, atau senilai Rp348 juta, yang dibawa MR, warga Kota Pekanbaru.

Sehari kemudian, aparat kepabeanan kembali menggagalkan penyelundupan Ekstasi sebanyak 1.000 butir, dan 107 gram Ketamine (bahan dasar pembuat Shabu), dengan total senilai Rp3,2 miliar yang dibawa seorang pria berinisial ES, warga Bagansiapi-siapi, Riau.

Lalu, pada 12 Februari 2010, kembali hal serupa terjadi penyelundupan Shabu seberat 3,252 kilogram, senilai Rp6 miliar yang dibawa lelaki, warga negara Indonesia, bernama Razali Puteh, juga berhasil digagalkan. Kemudian, 30 Mei, seorang tersangka pembawa 3,25 kilogram Opium, senilai Rp6,4 miliar, juga berhasil diamankan. Pada 11 Juni 2010, petugas Bea dan Cukai kembali menggagalkan upaya penyelundupan Shabu-Shabu, seberat 6 kilogram senilai Rp12 miliar, berikut seorang kurir pria.

“Dengan kondisi yang demikian itu, kita berharap polisi juga bisa mengusut tuntas, jaringan berikut siapa saja pelaku yang terlibat, terutama mereka yang ada di Riau. Karena mustahil, barang itu bisa masuk tanpa ada aktor utama di Riau,” ungkap Mambang Mi menegaskan.

Sebelumnya, Kapolresta Dumai, AKBP Hersadwi Hendarso mengaku kesulitan mengungkap jaringan internasional peredaran Narkoba, khususnya di Kota Dumai. Karena masih minimnya partisipasi masyarakat lokal dalam memburu pelaku utama dari jaringan yang ada.

“Hanya segelintir warga yang mau menginformasikan kepada kami, mengenai peredaran Narkoba di tengah masyarakat dengan dua sampai lima kasus pengaduan barang haram itu. Padahal untuk memberantas Narkoba, tidak bisa sepenuhnya dilakukan polisi tanpa melibatkan semua elemen masyarakat,” ujarnya.

Untungnya, Kantor Bea dan Cukai Dumai beberapa kali, berhasil menggagalkan penyelundupan Narkotika jenis Shabu, yang diselundupkan dari negeri Jiran, Malaysia, melalui kapal feri di Pelabuhan Internasional Dumai.

Para tersangka, dengan barang bawaannya, berhasil ditangkap dan disita aparat. Jika tidak, pasti korban keganasan Narkoba akan terus berjatuhan di negeri tercinta ini. Warning, kini fenomena itu muncul, Kawasan Sumatera dijadikan target pintu masuk utama Narkoba jaringan sindikat internasional di dalam negeri.

Badan Narkotika Nasional/Afrizal/B21