Terkait Amruknya Jembatan Kutai Kertanegara, Saudara Sepupu Atlet Pesilat Kutai Alami Luka-Luka Serius


Ambruknya jembatan di Kota Tenggarong, yakni Jembatan Kutai Kertanegara sebagai ikon jembatan di wilayah Kabupaten Kutai Kertenegara, Provinsi Kalimantan Timur yang telah merenggut nyawa hingga puluhan orang tewas tersebut, dirasakan sekali oleh para atlet maupun pelatih dan official dari Kontingen PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) asal Kutai Kertanegara saat Kejuaraan Nasional Pencak Silat antar PPLP se-Indonesia tahun 2011 di GOR Kota Baru, Kota Jambi, yang berlangsung sejak 25-30 November ini.
Salah seorang atlet pesilat PPLP asal Kutai Kertanegara, Slamet Widodo (18) mengungkapkan kepada berita21.com, yang saat itu didampingi oleh rekan satu timnya, Rigo Nurrahman (16), Slamet Widodo mengungkapkan kesedihannya, karena salah seorang sudara sepupunya mengalami luka dangat serius pada tangan dan kakinya ketika musibah runtuhnya Jembatan Kutai Kertanegara tersebut terjadi, pada Sabtu lalu (26/11/2011). Dimana seluruh konstruksi badan jembatan runtuh ke dalam Sungai Mahakam, hanya menyisakan 2 buah tiang penyangga jembatannya saja, dan kejadian tersebut sungguh mengejutkan banyak pihak, termasuk orang nomor satu di negeri ini yang merupakan sebuah tragedi nasional.
“Saya sangat terkejut, mendengar kabar itu. Dari informasi yang disampaikan kakak (kandungnya), saudara sepupu saya menjadi korban. Alhamdulillah, dia masih bisa diselamatkan, dan mengalami patah pada kaki dan tangannya. Kini sudah dirawat di RSUD AM. Parikesit di Tenggarong,” papar Slamet sedih.
Hal yang sama, juga dirasakan oleh Rigo Nurrahman, dia menyatakan turut belansungkawa sedalam-dalamnya kepada seluruh korban atas musibah tersebut. Dia pun sangat merasakan kesedihan yang dialami oleh rekan satu timnya, Slamet Widodo atas tragedi tersebut.
“Kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan atas kejadian ini (musibah runtuhnya Jembatan Kutai Kertanegara di Tenggarong) semoga diberikan ketabahan,  dan juga kami disini merasakan sekali kesedihan yang dialami seluruh warga Kutai atas musibah ini,” tuturnya.
Hal senada juga diungkapkan, Nursuito, pelatih atlet pencak silat PPLP Kontingen Kutai Kertanegara yang ikut dalam rombongan pada kejuraan nasional kali ini, dirinya sangat terkejut dan terperanjat tatkala mendengar kabar ambruknya jembatan yang menjadi ikon kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur ini. Menurut Nursuito, percaya dan tidak percaya atas kejadian tersebut. Oleh karena jembatan yang diresmikan saat Bupati Kutai kertanegara, dijabat oleh Bupati Syaukani Hassan Rais pada 2011 lalu itu, roboh dengan tiba-tiba.
“Percaya, tidak percaya, saya mas. Koq bisa terjadi. Padahal bila dilihat konstruksi jembatan itu sangat kuat dan kokoh. Apalagi saat peresmiannya, waktu itu sedang dilaksanakan tradisi adat budaya Kutai, tradisi Erau, dan dihadiri oleh seluruh raja-raja di seluruh Indonesia, termasuk juga dihadiri oleh Sultan Hamengkubuwono X,” jelasnya.
Disinggung mendengar kabar yang dialami sanak keluarga anak asuhnya, Slamet Widodo. Nursuito pun ikut sedih apa yang dialaminya. Akan tetapi, dia tetap memberikan semangat kepada Slamet untuk tetap tabah. “Ditanya sedih mendengar kabar yang menimpa keluarganya (Slamet Widodo). Ya, saya juga ikut sedih, mas. Tapi, syukurlah yang terpenting selamat dari kejadian musibah itu, dan semoga tidak terjadi apa-apa dengannya,” urai Nursuito menanggapi.
Pada even Kejuaraan Nasional Pencak Silat antar PPLP 2011 di Provinsi Jambi ini, Kontingen Kutai Kertanegara menurunkan tim sebanyak 7 orang, masing-masing, 3 atlet putra dan 1 orang putri. Mereka, yaitu Slamet Widodo (18) di Kelas E Putra, Stefanus Baritandri (18) di Kelas D Putra dan Rigo nurrahman (16) di Kelas F Putra, serta Devi sari (15) di Kelas C Putri. 2 orang pelatih pencak silat PPLP Kutai Kertanegara yang ikut dalam rombongan kejurnas kali ini, Wahyudi dan Nursuito, serta seorang official, yakni Rudifandi.
Afrizal/B21
Iklan