Kebijakan Nasional Pengendalian DBD


Jambi – Berita21: DBD, termasuk salah satu emerging diseases yang sampai saat ini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama.DBD berpotensi menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa), terutama pada musim penghujan. DBD, sejak ditemukan pertama kali pada 1968, jumlah kasus dan penyebaran area/daerah cenderung meningkat, meskipun angka kematian (CFR) dapat ditekan.

Vektor penular, Nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus, yang mampu bertelur dalam jumlah yang banyak. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan pemberdayaan masyarakat, menjadi strategi utama.

Siklus Penularan Penyakit DBD. Masa inkubasi penyakit Dengue, yakni dari 3-14 hari, rata-rata 4-7 hari. Faktor risiko penularan, diantaranya adalah perilaku masyarakat yang tidak menunjang PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), tingkat kekebalan seseorang, pertumbuhan jumlah penduduk, Urbanisasi yang tidak berencana dan terkontrol dengan baik, semakin majunya sistem transportasi sehingga mobilisasi penduduk sangat mudah, penyediaan air bersih yang tidak memadai, serta perubahan iklim yang cocok untuk perkembangan nyamuk.

Gejala klinis penderita DBD, yakni demam tinggi mendadak selama 2-7 hari. Manifestasi perdarahan, melalui uji bendung (tourniquet test) positif, petekie, ekimosis, purpura, serta perdarahan mukosa, epistaksis, pendarahan pada gusi, yaitu hematemesis (melena) dan pembesaran hati.

Dapat juga penderita mengalami ‘Syok, yang ditandai dengan; nadi cepat dan lemah, penurunan tekanan nadi (≤ 20 mmHg), hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, dan pasien tampak gelisah. Secara uji laboratorium, melalui trombositopenia (100.000/mm³ atau kurang) dan hemokonsentrasi/peningkatan hematokrit (≥ 20 persen) atau adanya efusi pleura, asites, atau hipoproteinemia (hipoalbuminemia).

Pertolongan pertama pada penderita Demam Berdarah Dengue, yakni istirahat yang cukup, berbaring, antipiretik (parasetamol), Kompres hangat, serta minum yang banyak (1-2 liter/hari). Semua cairan berkalori diperbolehkan, kecuali cairan yang berwarna coklat dan merah (susu coklat, sirup merah). Sementara vaksin dan obat hingga saat ini belum ada. Pemberian obat, hanya bersifat simptomatis.

Disamping itu, untuk mengetahui ciri-ciri nyamuk demam berdarah, yaitu tubuh hitam dengan belang putih, punggung nyamuk terdapat gambaran. Nyamuk Aedes Betina, merupakan si penular virus Demam Berdarah Dengue. Hanya Aedes Betina, menghisap darah untuk pematangan telur.

Proses pematangan telur tersebut selama 3-4 hari. Sekali bertelur, bisa mencapai 100 butir/ekor. Meletakkan telur di air yang jernih dan tidak berhubungan langsung dengan tanah. Senang bersembunyi/hinggap di tempat yang lembab, gelap, kumuh seperti di gantungan baju kotor, dan lainnya. Jarak terbang lebih kurang sekitar 100 meter.

Secara nasional perkembangan situasi DBD 2010, dengan distribusi penularannya di 33 provinsi dan 400 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, dengan total kasus mencapai 156.086 kasus, dengan rata-rata insidens nasional yakni 65,70 per 100.000 penduduk. Total kematian sebanyak 1.358 (CFR=0.87 persen).

Adapun 5 provinsi di Indonesia dengan IR tertinggi (per 100,000 penduduk), masing-masing yaitu Bali (337,04), DKI Jakarta (227,44), Kalimantan Timur (167,31), Daerah Istimewa Yogyakarta (144,92), dan Kepulauan Riau (88,37).

Situasi DBD terkini, berdasarkan data sampai dengan November 2011. Distribusi di 31 provinsi dan 360 kabupaten dan kota yakni total kasus sebanyak 49.577 kasus, dengan rata-rata IR secara nasional yakni 20,86 per 100.000 penduduk. Total kematian mencapai 404 (CFR=0.82 persen). Adapun di 5 provinsi dengan IR tertinggi (per 100,000 penduduk, antara lain Bali (81,08), DKI Jakarta (72,24), Kepulauan Riau (49,70), Sulawesi Tengah (47,37), dan Nanggroe Aceh Darussalam (45,81).

Tren kasus Demam Berdarah Dengue perbulannya di seluruh Indonesia selama 2010 sampai dengan November 2011, terjadi penurunan kasus di 2011 yakni sebesar 68,23 persen dibandingkan pada 2010.

Untuk diingat, kriteria penetapan suatu daerah sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa), sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor.1501/Menkes/Per/X/2010, disebutkan bahwa timbulnya kasus yang sebelumnya tidak ada, atau tidak dikenal pada suatu daerah. Jumlah kasus dalam periode 1 bulan menunjukkan, kenaikan 2 kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata kasus perbulan tahun sebelumnya.

Adapun kegiatan pokok untuk program pengendalian demam berdarah secara nasional dapat dilakukan secara serentak, diantaranya surveilans epidemiologi, penemuan dan tata laksana kasus, pengendalian vektor, peningkatan peran serta masyarakat, SKD (Sistim Kewaspadaan Dini) dan penanggulangan KLB (Kejadian Luar Biasa), penyuluhan, kemitraan/Jejaring kerja, capacity building, monitoring dan evaluasi, serta penelitian dan survei.

Selain itu, melalui pencegahan dengan 3M Plus, yaitu 3 M yaitu Menguras dan menyikat tempat penampungan air. Menutup rapat tempat penampungan air. Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air. Plus, yakni memelihara Ikan pemakan jentik, memasang kawat kasa, mengatur ventilasi dan pencahayaan dalam ruangan, mengganti air vas bunga atau tempat minum burung minimal 1 minggu sekali, menghindari menggantung pakaian dalam kamar, menggunakan obat anti nyamuk, menaburkan larvasida di tempat penampungan air, dan lainnya.

Untuk pengembangan program kebijakan nasional penanggulangan demam berdarah, dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya yaitu mengaktifkan kembali Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) diberbagai tingkat administrasi, pengendalian DBD masuk dalam SPM bidang kesehatan di kabupaten/kota sehingga upaya pengendalian operasional dan non-operasional menjadi tanggung jawab kabupaten/kota sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor.741 Tahun 2008.

Sedangkan kegiatan pengendalian DBD/Chikungunya telah dimasukkan pada Petunjuk Teknis BOK tahun 2011, berupa surveilans, pelacakan dan penemuan kasus, serta pengendalian dan pemberantasan vektor.

Advokasi kepada Bupati/Walikota di daerah agar meningkatkan komitmen terhadap pengendalian DBD, melalui cara dengan meningkatkan pendanaan untuk kegiatan Kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik), Contoh di DKI Jakarta, Kota Mojokerto (Jawa Tengah) dan Denpasar (Bali). Adanya regulasi pemerintah daerah (perda) tentang pengendalian Demam Berdarah Dengue, seperti berapa daerah yang telah memiliki Perda tentang Pengendalian DBD antara lain DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur.

Meningkatkan kerjasama dengan sektor terkait, seperti Kemendiknas dan Kemenag dengan mengaktifkan UKS (Unit Kehatan Sekolah), Kemendagri melalui pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan PKK. Kementerian Lingkungan Hidup, dengan cara pengembangan surveilans berdasarkan iklim, dan menggalang kemitraan di bidang kesehatan dengan mitra kerja di masing-masing daerah, seperti perguruan tinggi, media massa, organisasi dan komponen masyarakat lainnya dalam PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).

Untuk saat ini, perkembangan penggunaan teknologi pengendalian DBD secara nasional, seperti pengembangan vaksin DBD, sedang dilakukan tahap uji coba ke tengah masyarakat. Pada 2011, telah dilaksanakan di 3 wilayah yakni DKI Jakarta, Bandung dan Denpasar (Fase 3). Disamping itu juga, beberapa penelitian tentang obat (herbal) untuk mempercepat kenaikan trombosit dan melakukan kajian distribusi serotype virus Dengue dilakukan di beberapa daerah endemis di seluruh Indonesia,. termasuk di Kota Jambi.

(Disampaikan oleh dr. Rita Kusriastuti, MSc, Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang pada Ditjen P2PL Kementerian Kesehatan RI, pada acara Serasehan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Jambi, 28 Desember 2011)

Afrizal/B21
Iklan