Walikota Gelar Serasehan Bersama Para Pakar


Jambi – Berita21: Guna mencari solusi untuk memecahkan masalah penanganan dan penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kota Jambi menjelang tutup tahun 2011 kali ini yang hingga sekarang menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi Pemerintah Kota Jambi untuk menanggulanginya, yang telah mencapai lebih dari 900 orang, dan 27 orang meninggal dunia, rata-rata mereka yang menjadi korban adalah anak-anak yang masih belia.

Untuk menginvestigasi kasus wabah penyakit DBD tersebut, yang sudah meluas sampai akhir tahun 2011. Maka Pemerintah Kota Jambi dan Dinas Kesehatan Kota Jambi menyelenggarakan serasehan (pertemuan) dengan menghadirkan nara sumber dari pejabat Ditjen P2PL pada Kementerian Kesehatan RI, Rita Kusriastuti beserta para pakar di bidang kesehatan masyarakat lainnya, seperti IDI (Ikatan Dokter Indonesia), IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), asosiasi rumah sakit se-Kota Jambi, pakar kesehatan penyakit dalam, perawat beserta pimpinan puskesmas se-Kota Jambi, camat dan lurah serta perwakilan dari Pemerintah Provinsi Jambi dan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, serta elemen dan kelompok masyarakat lainnya di Aula Rumah Dinas Walikota Jambi, Rabu (28/12/2011) Sungai Putri, Telanaipura, Kota Jambi.

Walikota Jambi, Bambang Priyanto menyampaikan komitmennya untuk mengatasi wabah DBD yang sudah menjadi kejadian yang sangat luar biasa (KLB) di Kota Jambi ini. Dikatakan Bambang Priyanto, merujuk pada data dari Dinas Kesehatan Kota Jambi saat ini, kasus wabah DBD yang terjadi di Kota Jambi telah mencapai angka lebih dari 900 orang dan menimbulkan kematian sebanyak 27 orang.

‘Untuk menginvestigasi wabah (DBD) yang sudah sangat meluas ini. Pemkot (Jambi) melakukan upaya-upaya aksi pemberantasan sarang nyamuk, melalui Gerakan Peduli Terpadu Pemberantasan Sarang Nyamuk (Garduli PSN) dengan melibatkan semua elemen masyarakat, dengan cara 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur). Dan, pemerintah juga melaksanakan volkfin, abatesiasi, dan pogging khusus,” paparnya.

Ditambahkan walikota untuk mengatasi hal ini, pihaknya juga mendapat bantuan dana hibah dari Pemerintah Provinsi Jambi sebesar Rp.410 juta untuk memaksimalkan pengendalian vektor Virus Dengue, penyebab penyakit DBD ini, serta memutuskan mata rantai penularannya.

Selanjutnya, pihak dari Pemerintah Provinsi Jambi, yang diwakili oleh Asisten II Gubernur Jambi bidang Kesejahteraan Sosial, Haviz Husaini, dia menyatakan untuk mengatasi wabah KLB DBD di Kota Jambi, serta upaya penanganannya dengan memutuskan mata rantai sumber penyakit yang penularannya diakibatkan oleh Virus Dengue tersebut. Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus telah mengambil keputusan dengan membuat surat edaran ke seluruh bupati dan walikota se-Provinsi Jambi.

“Dimana, surat edaran tersebut, sebagai langkah preventif untuk penanggulangan DBD yang terjadi di seluruh kabupaten dan kota dalam wilayah Provinsi Jambi. Yang akan segera dilakukan gerakan serentak penanggulangannya di Muaro Jambi tahun 2012 oleh gubernur, “ terang Haviz menambahkan.

Sementara itu, Ketua IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), Dokter Panji dari pengalamannya selama ini, dia menjelaskan wabah DBD bukan hanya terjadi saat musim penghujan saja namun disaat musim kemaraupun bisa saja terjadi.

Dari pengamatannya ketika menaiki pesawat melintasi wilayah Kota Jambi dari udara, dia melihat banyak sekali wilayah genangan-genangan air sehingga dirinya mendesak kepada pemerintah, terutama Pemerintah Kota Jambi untuk serius menangani masalah genangan air tersebut.

Terkait penanganan penyakit DBD yang sudah mewabah ini, Panji mengungkapkan pada hari ke-4 merupakan fase yang paling berbahaya bagi penderita. “Kapan mulai panasnya, dan dihitung setelah 24 jam. Jika penderita mengalami panas pada Senin pagi, maka dihitung sejak hari Selasa paginya. Untuk melihat perkembangannya, maka melihatnya pada hari keempat. Apakah masih kejang-kejang, matanya merah, dan perutnya terasa nyeri, bibir kebiruan. Jika demikian maka segera secepatnya diberikan pertolongan, “ paparnya.

Untuk mengatasinya, penderita diberikan obat penurun panas, yakni Parasetamol atau dikompres. “Tolong diamati tangan dan kakinya, cukup diawasi dan diraba, dingin atau panas,” imbuhnya.

Afrizal/B21