Harga Beras Naik, Harga Gabah Turun


CIANJUR- Berita21.com: Petani di Kabupaten Cianjur merasa semakin terpuruk.

Pasalnya, kenaikan harga beras yang menembus kisaran Rp 8.500 per kilogram bahkan menurut penuturan pemilik beras yang di hubungi sesaat sebelum berita ini di muat harga sudah menyentuh angka Rp. 8.800 per kilogram, ini tidak memberikan keuntungan bagi petani. Justru, di sejumlah wilayah harga gabah turun dari Rp 4.000 per kilogram menjadi Rp 3.800 – Rp 3.900 per kilogram.

“Jadi kalau ada kenaikan harga beras. Kami tidak dapat untung. Buktinya harga gabah justru turun. Jadi, kalau harga beras naik, justru yang susah petani penggarap karena mereka hanya menerima upah dan harus membeli beras juga dengan harga pasaran,” kata salah seorang petani Usep Ahmad, Cilaku Senin (13/2) kepada Berita21.com

Usep yang juga pemilik penggilingan beras yang cukup besar di cilaku mengatakan, dalam beberapa minggu lalu, harga gabah pernah menembus angka Rp 4.000 per kilogram. Namun, beberapa hari terakhir justru turun Rp 2.000 per kilogram.

“Sebenarnya yang membuat harga beras naik adalah rendeman padi yang semakin sedikit. jadi ketika gabah diolah, beras yang dihasilkan sedikit. Belum lagi biaya penjemuran dan pengolahan,serta cuaca yang sering hujan” ujarnya.

Usep mengatakan, sejumlah tengkulak juga mengeluhkan biaya penjemuran dan pengolahan. Penjemuran satu ton gabah membutuhkan biaya sekitar Rp 100.000, sedangkan biaya pengolahan per kilogram mencapai Rp 300.

Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Cianjur bersama Perum Bulog Divre Cianjur menggelar Operasi Pasar (OP) sebagai antisipasi kenaikan harga beras yang terus meningkat.

Kepala Seksi Bina Distribusi Disperindag Cianjur, Yudi Adhi Nugroho mengatakan OP digelar untuk mengatasi kenaikan harga beras yang sudah melebihi harga eceran tertinggi (HET) sebesar 25 persen selama tiga bulan berturut-turut.

Yudi menuturkan OP juga merujuk pada Surat Keputusan (SK) Bupati Cianjur, dengan HET sebesar Rp6.500 per kilogram. “Baru digelar di Pasar Ciranjang, saat ini tengah dilakukan pemantauan, disalurkan melalui koordinator pedagang beras,” katanya.

Alokasi OP, kata Yudi, diambil dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Bulog Divre Cianjur. Untuk tahap pertama baru diambil 4 ton dari persediaan 10 ton sesuai permintaan dari Pemkab Cianjur.

Yudi menuturkan Beras OP sendiri dititip di kios pedagang dan tak menggunakan penyaluran langsung, karena memiliki kesan tak baik. “Konsumen bisa langsung beli beras OP di kios yang sudah ditunjuk, dan harga sudah dipampang pakai pamplet sehingga tak bisa dijual dengan harga seenaknya,” tuturnya.

Lebih lanjut Yudi mengatakan harga beras untuk kelas II di pasaran kini sudah melebihi harga Rp8000 per kilogram atau kenaikan 13 persen selama dua minggu. Bahkan kenaikan 10 persen sudah terjadi per Januari 2012. “Maka sesuai aturan harga bisa stabil bila ada OP,”

Pedi/Epul/B21
Iklan