Sultan Jambi Beberkan Sejarah Fakta Pulau Berhala (1)


Dalam perbincangan berita21.com dengan Raden Abdurrachman (64) gelar Pengeran Mudo Bin Raden Ja’far Kertopati, disela-sela kesibukannya sebagai Sultan Jambi sesuai hasil penetapan Pengadilan Agama Jambi Nomor.18/Pdt.P/2008/PA.Jb, Selasa siang (21/02/2012) di rumah kediamannya di Komplek Teluk Permai, Telanaipura, Kota Jambi.

Dia menceritakan sejarah fakta Pulau Berhala yang saat ini menjadi polemik ditingkat nasional setelah hasil keputusan Mahkamah Agung pada 9 Februari 2012 yang memutuskan status Pulau Berhala kembali ke ‘status quo’ dengan membatalkan Permendagri Nomor.44 Tahun 2011 tentang Wilayah Administrasi Pulau Berhala, yang diterbitkan oleh Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi.

Raden Abdurrachman menceritakan, menurut sejarah pemekaran wilayah Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi pada saat pemerintahan Jambi abad ke-18, kala itu masih dipegang oleh Sultan Achmad Nazaruddin (paman Sultan Thaha Syaifuddin gelar Pangeran Jayaningrat), yang dikenal dengan nama Pangeran Purbo Sutowijoyo gelar Sultan Anom Sri Ingologo (1770-1790). Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi mencakup Kawasan Retih, yang sekarang ini masuk ke dalam wilayah administratif pemerintahan Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Saat itu, Kawasan Retih, masuk ke dalam wilayah Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi.

Kawasan Retih ini, saat itu diperintah oleh seorang putri, yang bernama Ratu Mas Srikandi. Wilayah kekuasaannya, membawahi gugusan 7 pulau termasuk salah satunya Pulau Berhala (yang sekarang ini menjadi rebutan antara Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau dengan Pemerintah Provinsi Jambi). Gugusan ketujuh pulau tersebut, masing-masing yaitu Pulau Lingga, Pulau Burung, Pulau Dabo, Pulau Singkep, Pulau Alang-Alang, Pulau Tikus, dan Pulau Berhala.

Ratu Mas Srikandi ini, menikah dengan Raja Indragiri, bernama Sayyed Sua’ib selaku Raja Kerajaan Indragiri. Hasil pernikahannya itu, mereka dikaruniai seorang putra, yang bernama Sultan Sri Menanti. Konon kabarnya, Sultan Sri Menanti ini pernah menjadi sultan di Negeri Sembilan, Malaysia.

Dengan perkawinan mereka ini, baik Kawasan Retih yang dipegang oleh Ratu Mas Srikandi dan wilayah Kerajaan Indragiri dipegang oleh Raja Indragiri sehingga wilayah kekuasaannya sangat luas, mencakup Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi dan Kerajaan Indragiri, Riau ketika itu.

“Hilangnya, sejarah Kawasan Retih inilah, yang menjadi pertanyaan sampai saat ini. Karena ulah penjajah Balanda saat itu. Dan, oleh pemerintah Belanda, Kawasan Ratih dimasukkan ke dalam wilayah pemerintahan administratif Kabupaten Indragiri sampai sekarang,“ ungkapnya menambahkan.

Untuk mempertegas adanya penyerahan Kawasan Retih ini termasuk sejarah Pulau Berhala oleh penjajah Belanda ketika itu, kata Raden Abdurrachman, dirinya mempertanyakan penyerahannya bagaimana sejarahnya.

“Apakah diserahkan ke Kesultanan Indragiri, atau ke Kesultanan Lingga. Atau juga, penyerahannya ke Kesultanan Siak Indrapura. Supaya jelas duduk permasalahannya,” ujarnya seraya menjelaskan.

Disinggung bagaimana upaya untuk menyelesaikan sengketa atas kepemilikan Pulau Berhala ini, yang berada di Desa Sungai Itik, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi ini. Raden Abdurrachman gelar Pengeran Mudo, yang merupakan cicit Sultan Thaha Syaifuddin dan sebagai Raja Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi pelestarian, yang dikenal dikalangan Raja dan Sultan se-Nusantara dengan nama Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin, seraya berharap dirinya mengungkapkan agar kemelut sengketa atas kepemilikan Pulau Berhala dapat diselesaikan ditingkat raja dan sultan se-Nusantara.

Karena masalah itu, tambah sultan, masalah penyerahan Pulau Berhala itu karena terjadi disaat era Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi masih berkuasa. Sebelumnya, diungkapkan Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin, dia pernah menanyakan langsung kemelut sengketa masalah atas kepemilikan Pulau Berhala dengan Sultan Lingga Tengku Syaifuddin pada Silaturahmi Nasional Raja/Sultan Nusantara ke-II di Hotel Savoy Homan Bandung, pada 25-26 November 2011.

“Sebenarnya, para raja dan sultan sangat tau sekali nilai-nilai historisnya. Karena saya bertemu langsung dengan Sultan Lingga Tengku Syaifuddin. Dan, menyinggung masalah ini. Beliau sangat menyetujui usulan saya, untuk diselesaikan ditingkat kesultanan masing-masing, tanpa ada intervensi pemerintah daerah,” demikian sebutnya.

Afrizal/B21

2 thoughts on “Sultan Jambi Beberkan Sejarah Fakta Pulau Berhala (1)

  1. Wilayah kesultanan Jambi tidak mencakup kawasan Retih. Dari dulu kawasan Retih masuk ke dalam wilayah kerajaan Indragiri. Putri Kerajaan Jambi, Ratu Mas Srikandi menikah dengan Raja Indragiri Sultan Said Syuaib Mudoyatsyah (1838-1876) dengan diberikan daerah Retih sebagai mas kawinnya, sehingga dengan perkawinan ini daerah Retih dipakai dan dikelola oleh Ratu Mas Srikandi secara pribadi sebagai istri Sultan Indragiri, namun secara hukum daerah Retih tetap menjadi milik kerajaan Indragiri. Karena atas fakta hukum inilah maka oleh pemerintah Belanda kawasan Retih dimasukan ke dalam wilayah pemerintahan administratif (afdeling) Indragiri sampai sekarang dan oleh kerajaan Indragiri tidak pernah diserahkan kepada pihak manapun.

    Contoh lainnya adalah pada saat Sultan Mansyursyah menikah dengan putri Majapahit dengan memberikan Gunung Ledang sebagai mas kawinnya, secara hukum Gunung Ledang tetap menjadi wilayah kerajaan Melaka, bukan milik kerajaan Majapahit.

    Salam,
    Tengku Parameswara.
    Pangeran Kerajaan Indragiri.

Komentar ditutup.