Sultan Jambi Beberkan Sejarah Fakta Pulau Berhala (2)


Jambi – Berita21.com: Sebelumnya diberitakan, Raden Abdurrachman gelar Pengeran Mudo Bin Raden Ja’far Kertopati, yang juga cicit Pahlawan Nasional, Sultan Thaha Syaifuddin, juga sebagai Raja Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi pelestarian, yang dikenal dikalangan Raja dan Sultan se-Nusantara dengan nama Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin ini mengungkapkan kepada berita21.com, masalah penyerahan Pulau Berhala, yang kini menjadi rebutan kepemilikannya oleh Pemerintah Provinsi Jambi dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau hingga sekarang ini, karena terjadi dimasa era Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi masih berkuasa.

Dimana Pulau Berhala tersebut, yang juga merupakan salah satu bagian dari 7 gugusan pulau-pulau yang ada, bersama dengan gugusan pulau lainnya, yaitu Pulau Lingga, Pulau Burung, Pulau Dabo, Pulau Singkep, Pulau Alang-Alang dan Pulau Tikus, yang berada dalam lingkup wilayah kekuasaan Kawasan Retih yang diperintah oleh Ratu Mas Srikandi saat itu, menurut Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin, kini menjadi tanda tanya besar bagaimana sebenarnya proses terjadinya penyerahan Kawasan Retih tersebut oleh penjajah Belanda ketika itu, sehingga masuk ke dalam wilayah pemerintahan administratif Kabupaten Indragiri sampai sekarang ini, paparnya.

Sementara kawasan Retih ini, tambah Sultan Abdurrachman, merupakan wilayah dari Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi. “Hilangnya, sejarah Kawasan Retih inilah, yang menjadi pertanyaan besar sampai saat ini. Karena ulah penjajah Belanda saat itu. Dan, oleh pemerintah Belanda, Kawasan Retih ini dimasukkan ke dalam wilayah pemerintahan administratif Kabupaten Indragiri sampai sekarang,“ tegas Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin menegaskan.

Untuk patut diketahui bahwa Ratu Mas Srikandi ini, seperti yang dipaparkan Sultan Jambi, dia menikah dengan Raja Indragiri, bernama Sayyed Sua’ib selaku Raja Kerajaan Indragiri. Hasil pernikahannya itu, mereka dikaruniai seorang putra, yang bernama Sultan Sri Menanti. Konon kabarnya, Sultan Sri Menanti ini pernah menjadi sultan di Negeri Sembilan, Malaysia.

Dengan perkawinan kedua orang tersebut, baik Kawasan Retih yang dipegang oleh Ratu Mas Srikandi dan wilayah Kerajaan Indragiri dipegang oleh Raja Indragiri sehingga wilayah kekuasaannya sangat luas, mencakup Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi dan Kerajaan Indragiri, Riau ketika itu.

Dipaparkan lebih jauh, dikatakan oleh Sultan Abddurachman Thaha Syaifuddin, berdasarkan catatan dokumen yang ditulis oleh Ngebi Suto Dilago Priyai Rajo Sri (Tarikh 1358), yakni Kepala dari Orang Kerajaan Jambi yang 12 Bangko, yang juga merupakan keturunan dari Datuk Paduko Berhalo (Datuk Paduko Berhalo merupakan nenek moyang Sultan Jambi saat ini, sekaligus cikal bakal pemegang tampuk kekuasaan di Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi).

Ngebi Suto Dilago Priyai Rajo Sri, adalah anak angkat Pahlawan Nasional Sultan Thaha Syaifuddin yang juga Raja Jambi ini, dialah yang menyalin buku tentang kepindahan Ratu Mas Srikandi ke Kawasan Retih pada tahun 1223 Masehi, diceritakan dalam bukunya bahwa sosok Ratu Mas Srikandi ini, seorang wanita yang sangat handal, sakti, dan berilmu tinggi sehingga dia dapat memperluas daerah taklukannya hingga ke Negeri Sembilan, Malaysia. Adapun tanah Rantau yang takluk, sebagai wilayah jajahan Ratu Mas Srikandi terdiri dari 7 laras sungai, 7 buah pulau, dan 9 buah negeri.

Masih diceritakan di dalam catatan milik Ngebi Suto Dilago Priyai Rajo Sri ini, kata sultan, adapun 7 laras sungai itu, meliputi Sungai Setaman, Sungai Igal, Sungai Manda, Sungai Gaung, Sungai Anak Talukuh, Sungai Pulau Palas, dan Sungai Batang Tuakah.

Selanjutnya ke tujuh buah pulau yang dimaksud itu, masing-masing yakni Pulau Jumajah, Pulau Siantan, Pulau Sri Medan, Pulau Sarasan, Pulau Subi, Pulau Burung dan Pulau Laut. Termasuk juga, Pulau Air Abu, Pulau Saluan, dan Pulau Temalam (kesemua pulau-pulau ini, termasuk wilayah gugusan 7 pulau, yang kini berada di dalam wilayah administrasi pemerintahan Provinsi Riau dan Kepulauan Riau).

Sementara yang kesembilan buah negeri itu, yaitu Negeri Melaka (disanalah asal anak Raja Jambi, yang bergelar Sultan Sri Menanti), Negeri Serban, Negeri Sangujung, Negeri Kuala Pila, Negeri Kajang, Negeri Pahang, Negeri Sembilan, Negeri Kuala Lumpur dan Negeri Batu Gajah (semua negeri-negeri ini, merupakan wilayah Malaysia sekarang).

Dijelaskan oleh Sultan Jambi, Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin, menurutnya bahwa, di dalam salah satu Pasal dalam Undang-Undang Jambi (Tarikh 1318), disebutkan dalam tulisan keterangan ‘Hutan Tanah Simpang’ di dalam catatan milik Ngebi Suto Dilago Priyai Rajo Sri tersebut. Tanah yang dimaksud, tanah bahagian yang diperuntukkan bagi Orang Kayo Hitam, Raja Jambi ketika itu.

Dimana letak batas Hutan Tanah Simpang itu, kata sultan, yaitu mencakup Pulau Berhala, Pulau Sapat, dan Pulau Perairan Pulau Daik (perairan Pulau Daik ini, meliputi gugusan wilayah Pulau Lingga, Pulau Burung, Pulau Dabo, Pulau Singkep, Pulau Alang-Alang, Pulau Tikus, dan Pulau Berhala sekarang). bersambung.

Afrizal/B21

One thought on “Sultan Jambi Beberkan Sejarah Fakta Pulau Berhala (2)

  1. Asl. Semoga Allah SWT memberkahi segala petunjukNya buat kita semua, dan yang jelas perdamaian harus tetap selalu dijaga di muka bumi ini untuk kebahgaiaan seluruh insan manusia. Amiin. Wsl.

Komentar ditutup.