Penobatan Raden Abdurrachman sebagai Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi, 18 Maret Mendatang


“Bunga Raya Ditepi Tanjung Jangan Direnggut Dahan Terpaut, Adat Budaya Rasa Nak Junjung, Hidup Mengikut Pada Yang Patut. Dari Muaro Jambi Ke Tungkal Ulu, Hendak Membeli Ikan Pari, Memanglah Rencana Keluarga Dari Dahulu Agar Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi Segera Dilestari”.

Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi kini telah memiliki seorang sultan. Setelah sekian puluh tahun lamanya, pelestarian Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi sejak wafatnya Sultan Thaha Syaifuddin, saat penyerangan penjajah Belanda ke tempat terakhir pelarian Sultan Thaha Syaifuddin di Tanah Garo, dan wafat dalam pertempuran di Desa Betung Bedarah, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo pada 1904. Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi hingga awal tahun 2012 ini, sebagai bagian pelestarian aset sejarah dan budaya Melayu Nusantara, malahan belum berdiri tegak.

Padahal kita ketahui, Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi, Sultan Thaha Syaifuddin telah menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor.079/TK/1977. Akan tetapi, yang banyak ditunggu oleh publik Jambi hingga sekarang. Sejauh ini pelestarian Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi masih menjadi kendala oleh sebab penerus sultan sekaligus pewaris Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi yang sah sesuai penetapan Majelis Hakim Pengadilan Agama Jambi Nomor.18/Pdt.P/2008/PA.Jb yang menetapkan, Raden Abdurrachman Bin Ja’far Kertopati gelar Pangeran Mudo sebagai ahli waris sekaligus penerima waris tahta Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi, yang dikenal sebagai Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin belum dinobatkan secara prosesi adat kerajaan pada umumnya. Seperti lazimnya prosesi acara adat kerajaan dan kesultanan se-Nusantara.

Namun justru dalam waktu dekat ini, pada 18 Maret 2012 yang akan datang, momentum paling bersejarah akan lahir di ‘Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah’ ini. Bertempat diruang Ball Room, Hotel Novita, Pasar Jambi akan digelar acara prosesi adat Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi yang sangat megah, yaitu prosesi acara penobatan Raden Abdurrachman Bin Raden Ja’far Kertopati gelar Pangeran Mudo, yang dikenal sebagai Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin sebagai Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi.

Sekaligus acara prosesi adat kerajaan tersebut disamping penobatannya sebagai Sultan Jambi, juga prosesi adat acara pemberian gelar kekerabatan kepada keluarga Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin di Malaysia.

Saat dikonfirmasi, Sultan Abdurrachman mengiyakan adanya acara prosesi adat penobatan dirinya sebagai Sultan Jambi beserta permaisuri Ratu Mas Siti Aisah gelar Ratu Aisah Kusumo Ningrat yang akan mendampinginya pada 18 Maret yang akan datang.

“Benar, acara prosesi adat yang saya lakukan, salah satunya gelar penobatan saya sebagai Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi pelestarian dengan istri selaku permaisuri, Ratu Mas Siti Aisah gelar Ratu Aisah Kusumo Ningrat. Serta prosesi adat pemberian gelar kepada kerabat sultan, yang bermukim di Malaysia, berjumlah 12 orang.

Karena 12 orang ini, saya anggap, nenek moyang merekalah yang telah membantu kelancaran 32 orang pengungsi anak cucu mendiang Sultan Jambi, Sultan Thaha Syaifuddin, setelah sesampainya di daratan semenanjung Malaysia, tepatnya di Kawasan Desa Tongkang Pecah, Batu Pahat, Johor Malaysia selama 7 tahun lamanya, yaitu antara tahun 1894 hingga 1901,” papar Sultan Abdurrachman menerangkan saat menjawab kepada berita21.com, di Kota Jambi.

Adapun 12 orang kerabat Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi asal Malaysia tersebut, diungkapkan Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin akan diberikan gelar adat kesultanan, yakni Yang Amat Mulia Bonda Ratu Syarifah Murliani Binti A. Latif, Yang Amat Mulia Nazatultahar Bin Moch. Dom, Yang Amat Mulia Datok Saipolbahri Bin H. Suib, Johan Hamzah, Hafis Nor Bin Hamzah, Khalifah Bin Hamzah, Nazatul Asyraf Bin Moch. Dom, Ustadz IsmailBin Syarif, Isma Puteri, Bin Ismail, Dahrum Bin Hashim, MD. Isa Bin Jani, dan Dhiviva.

Ketika ditemui media online ini, Sekretaris Panitia, Tursiman menyatakan pihaknya tidak dapat memastikan siapa-siapa yang hadir namun nama-nama yang tertera dalam undangan tersebut dapat menghadiri prosesi adat gelar penobatan Raden Abdurrachman Bin Raden Ja’far Kertopati gelar Pangeran Mudo, yang dikenal sebagai Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin sebagai Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi. “Mudah-mudahan, semua yang diundang dapat menghadiri acara prosesi adat ini,” sebutnya.

Dalam contoh undangan yang diperoleh berita21.com itu, tercantum beberapa tokoh pemerintah Provinsi Jambi, tokoh adat, cerdik pandai dan tua-tua tengganai yang ada, seperti Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, Ketua Lembaga Adat Melayu Jambi Hasip Kalimuddin Syam, mantan Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jambi Chalik Saleh, mantan Bupati Bungo Zulfikar Achmad, Tokoh Lembaga Adat Melayu Jambi Datok Raden Marjoyo Pamuk, Tokoh Adat Tebo Datok Sidik, dan lainnya, seperti Raden Mas Yusuf Kertopati, Raden Ahmad Ika, Said Agil, dan Syarif Usman Assegaf.

Afrizal/B21

Iklan

One thought on “Penobatan Raden Abdurrachman sebagai Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi, 18 Maret Mendatang

  1. kami anak cucu cicit kepada sultan thaha kenapa tidak diundang.kami dari keturunun ratu mas ayu hafsah bte sultan thaha anak bungsu kepada sultan thaha yang mana keluarga kami menetap di kota tinggi johor.radin ratu mas ayu badaniah ada kakak kepada radin ratu mas ayu hafsah.sedangkan semua tahu anak sultan thaha ada dua orang yang diselamatkan kemalaysia.kenapa pehak kerajaan jambi tidak pernah untuk mencari keturunan hafsah.sekarang anak hafsah ada seorang yang tinggal daripada tujuh beradik.

Komentar ditutup.