Mengenal Sosok Pewaris Kesultanan Jambi yang Baru (Pelestarian)


Jambi – Berita21.com:Satu abad lebih lamanya, atau sekitar 108 tahun dalam perjalanan waktu.

Foto by Afrizal Berita21.comSejak tewasnya Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi yang terakhir, yaitu Sultan Thaha Syaifuddin di lokasi persembunyiannya di Desa Tanah Garo, Kecamatan Muaro Tabir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Dalam pelariannya tersebut, setelah mengalami pertempuran yang panjang dan amat melelahkan dengan penjajah Belanda yang dipimpin oleh Leutenant G. Badings pada 1904 di Desa Betung Bedarah, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo. Dalam perjalanannya kejayaan dan kemasyuran Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi era kepemimpinan Sultan Thaha Syaifuddin sampai sekarang ini, belum berdiri tegak dan kokoh.

Namun justru kejayaan dan kemasyuran Kesultanan Jambi di era Sultan Thaha Syaifuddin tempo dulu bakal segera terwujud pada Minggu, 18 Maret 2012 yang akan datang dengan digelarnya prosesi adat agung penobatan penerus Sultan Thaha Syaifuddin kepada Raden Abdurrachman Bin Raden Djak’far Kertopati gelar Pangeran Mudo, sebagai Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi (pelestarian) yang baru berdasarkan penetapan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Agama Kelas I Jambi Nomor.18/Pdt.P/2008/PA.Jb, tertanggal 19 Mei 2008.

Riwayat sosok Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi pelestarian ini, yakni Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin, dia adalah putra mahkota dari Raden Dja’far Kertopati Bin Raden Inu Kertopati, dan ibunya bernama Ratu Mas Maimunah gelar Ratu Kecik Binti RA. Rahman gelar Pangeran Ratu Martoningrat Bin Sultan Thaha Syaifuddin.

Secara langsung mempunyai anak tunggal selaku pewaris tahta sekaligus putra mahkota Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi, yaitu Raden Abdurrachman alias Raden Guntur bergelar Pangeran Mudo.

Seperti yang disampaikan Raden Iskandar HK gelar Pangeran Prabu dalam dokumen surat wasiat yang ditinggalkan ayah kandungnya, yang bernama Raden Hasan Basri, menurut Raden Iskandar ketika Raden Abdurrachman gelar Pangeran Mudo berusia 9 tahun maka mandat dititipkan kepada Raden Hasan Basri Bin Inu Kertopati.

Kemudian saat Raden Abdurrachman alias Raden Guntur dewasa, maka amanah kesultanan diserahkan kepada Raden Abdurrachman gelar Pengeran Mudo.

“Pada saat Raden Ja’far Kertopati meninggal dunia tahun 1964. Raden Abdurrachman bin Raden Dja’far Kertopati bin Raden Inu Kertopati bin Sultan Thaha Syaifuddin masih berumur 9 tahun. Perwalian sementara diambil alih oleh Raden Hasan Basri, dan pada saat Raden Abdurrachman dewasa maka perwalian probowali dan probosekso dikembalikan kembali kepada Raden Abdurrachman pada saat dewasa.

Dan seterusnya, berhak sepenuhnya sebagai Ahli Waris dan Penerima Waris Sultan Thaha Syaifuddin dan mempunyai kewajiban mengurus waris, pelestarian budaya Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi, dan kepada seluruh keluarga besar Sultan Thaha Syaifuddin,” jelas Iskandar menambahkan kepada media online ini.

Ditambahkan Sejarawan Jambi, Fachrudin Saudagar ketika menanggapi menyatakan hal yang sama. Dikatakan Fachruddin, dari penuturan para keluarga besar dan keturunan Sultan Thaha Syaifuddin yang pernah ditemuinya, menurutnya penerus dan pewaris tahta Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi setelah Sultan Thaha Syaifuddin adalah Raden Abdurrachman Bin raden Djak’far Kertopati.

“Apa yang pernah disampaikan almarhum Raden Jangcik dan Raden Anwar Kertopati, keduanya mengatakan bahwa sebagai pewaris yang sah adalah Raden Abdurrachman,” tegas Fachruddin, yang juga dosen di Universitas Jambi ini menyebutkan.

Diungkapkan Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin, Sultan Jambi yang terakhir, yang juga Pahlawan Nasional asal Jambi ini berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor.079/TK/1977, yaitu Sultan Thaha Syaifuddin dari perkawinannya dengan Permaisuri Ratu Chalijah gelar Ratu Anom Kesumo Ningrat dikaruniai seorang putra dan tiga putri, masing-masing RA. Rahman gelar Pangeran Ratu Marto Ningrat, Ratu Mas Intan, Ratu Mas Nunit, dan Ratu Mas Ayu Maryam.

Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi, Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin yang lahir di salah satu kamar bagian tengah Rumah Dinas Residen Jambi yang pertama (sekarang Rumah Dinas Gubernur Jambi), Raden Inu Kertopati di Tanah Putih, Kecamatan Pasar, Kota Jambi sekarang, pada Jum’at, 16 Juni 1950.

Menanamatkan pendidikan terakhirnya di SMA Negeri 1 Kota Jambi dan bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) dilingkungan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Provinsi Jambi hingga diai pensiun pada 2006.

Dari pernikahan dirinya dengan Ratu Mas Siti Aisyah gelar Ratu Aisyah Kesumo Ningrat, dikaruniai dua orang putra dan seorang putri, masing-masing yaitu Raden Rano Dwi Anggoro gelar Pangeran Ratu sebagai pewaris tahta sekaligus putra mahkota Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi pelestarian, Raden Wawan Pitrah Nugraha dan Ratu Mas Nora Fitria Ulfah.

Gelar kesultanan yang melekat pada dirinya, yaitu Pangeran Mudo dan Ratu Ngurah Sultan Abdurrachman Thaha Syaifuddin. Gelar Ratu Ngurah tersebut dikatakan Sultan Abdurrachman kepada berita21.com, merupakan gelar kekerabatan yang diperolehnya dari Raja Bali, DR. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III ketika acara peresmian Museum Soekarno pada 11 November 2011 di Tampak Siring, Gianyar, Bali.

Disamping itu, dirinya juga terlibat aktif di beberapa organisasi sultan dan raja se-Nusantara, seperti anggota AKKI (Asosiasi Kerajaan Kesultanan Indonesia), dan anggota Yayasan Raja Sultan Nusantara (YARASUTRA).

Afrizal/B21