Kerajinan Peci Gentur Tembus Pasar Timur Tengah


Sentra peci di Gentur dan CicariangCianjur, masih awet bertahan. Kini, ada sekitar 30 industri rumahan pembuat songkok. Permintaan kopiah pun masih melimpah.

Permintaan tidak hanya dari datang dari pembeli di dalam negeri, juga dari pembeli luar negeri, terutama dari Timur Tengah.

Bukan hanya kondang sebagai kampung santri, Kampung Gentur dan Cicariang, Desa Jambudipa, Warungkondang, Cianjur, juga tenar sebagai sentra peci. Sejak tahun 1982, warga kedua

kampung tersebut merintis usaha pembuatan songkok. Produk peci dari desa ini kini sudah melanglang buana ke sejumlah negara.

Tidak sulit menemukan sentra peci Gentur dan Cicariang. Dari kota Cianjur, jaraknya kira-kira 17 kilometer atau 30 menit perjalanan mengarah ke lereng Gunung Gede. Adalah Cecep (60 tahun), yang awal mula merintis bisnis pembuat peci di Gentur.

Ia jeli melihat peluang ketika para santri yang mondok di sejumlah pesantren Kampung Gentur dan Cicariang, kesulitan mencari peci.

Mereka harus ke Bandung atau Jakarta untuk membeli songkok itu. “Saya berinisiatif membuat peci sejak tahun 1982 karena waktu itu saya juga kesulitan mencari peci,” kata Cecep yang juga pernah nyantri di pondok pesantren di kampungnya.

Dengan bermodal duit Rp 250.000, Cecep memulai bisnis ini. Kebetulan ia punya sedikit keahlian menjahit. Sekitar Rp 100.000, ia gunakan untuk membeli bahan berupa kain dan benang. Sisanya, untuk membeli mesin jahit.

Cecep pun mulai memproduksi peci sendiri. Produknya ia beri merek Menara Jaya.

Tidak sampai setahun, peci merek Menara Jaya buatan Cecep mulai tersohor di sekitar Cianjur. Ini tak lepas dari bantuan promosi para santri di kampungnya.

Tak ingin cuma jago kandang, Cecep juga rajin memasarkan pecinya ke daerah lain. Ia bahkan juga mempromosikan produknya ke tempat-tempat ziarah di daerah Banten dan Jawa Barat. Perlahan, usaha Cecep membesar. Malah, sejak 2005, ia merambah pasar ekspor dengan omzet sekitar Rp 150 juta sebulan.

“Kalau sekarang sudah ekspor ke Malaysia, Arab Saudi, dan Maroko,” ujarnya.

Cecep menjual banyak jenis peci dengan harga bervariasi. Antara lain, peci Garut, peci Thailand, peci Madinah, peci Maroko, peci Aldan, peci Kambani, peci sablon tulis, peci Bangladesh, peci rajut, peci Malaysia, dan peci wol. Harga jualnya berkisar Rp 80.000-Rp 150.000 per kodi alias 20 buah.

“Yang paling laku itu untuk jenis peci Aldan seharga Rp 120.000 per kodi,” ujarnya.

Melihat usaha Cecep berkembang, sejumlah warga Gentur dan Cicariang pun kepincut. Menurut Cecep, saat ini ada 30 rumah industri yang memproduksi peci di kedua kampung itu.

Salah satunya Cecep, warga kampung Cicariang, Abdul Majid (32 tahun), yang memulai bisnis pembuatan peci sejak 2005 dengan merek Al-Majdi. ‘Saya bisa produksi 400 buah peci dalam sehari,” ungkapnya.

Sementara itu pengasuh Ponpes Gentur bernama KH. Abdul Qodir yang akrab di sapa Aah Gentur, berharap pemerintah kabupaten Cianjur bisa mengoptimalkan peluang yang ada di wilayah tersebut dengan melakukan pembinaan usaha dan suntikan modal agar sentra usaha pembuatan peci bisa terus berkembang serta mengingat Peci produksi masyarakat Gentur dan Cicariang memiliki kualitas bagus sehingga bisa menembus pasar eksport.

(Epul/B21.com)
Iklan