PB Panjaitan : Adat Istiadat Mampu Tangkal Perubahan Arus Globalisasi


Jambi – Berita21.Com: Memelihara dan melestarikan warisan budaya dan adat tradisi leluhur ditanah rantau saat ini menjadi ‘oase’ ditengah mulai mengikisnya karakter budaya dan jati diri Bangsa Indonesia sebagai bangsa majemuk yang penuh ke-Bhinnekaan, Terutama di kalangan pemuda generasi penerus menghadapi era serbuan teknologi komunikasi dan informasi tiada batas yang secara mengglobal sekarang ini, membutuhkan kearifan dan daya saing lokal serta kemampuan untuk menyaring segala pengaruh dari luar yang tidak sesuai dengan adat istiadat dan budaya Batak, khususnya di wilayah Provinsi Jambi demi kemajuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Jambi umumnya sekaligus mewujudkan ‘JAMBI EMAS (Ekonomi Maju, Aman, Adil, dan Sejahtera) pada 2015 yang akan datang.

Demikian dikemukakan Ketua Kumpulan Marga Panjaitan Jambi, P. Bernhard Panjaitan kepada berita 21.com, disela-sela acara kegiatan silaturrahmi “Punguan Panjaitan Dohot Boruna’ bertajuk ‘Bersatu dan Berkarya untuk Kemajuan Bersama’ di Gedung Pertemuan Budi Mulia, Jalan Juanda, Mayang Mangurai, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi, Minggu siang (25/03/2012), yang dihadiri hampir lebih kurang 1.000 Keluarga Marga Panjaitan se-Kota Jambi dan sekitarnya.

Disamping itu juga, tidak kalah menariknya yang kerap dipertunjukkan kepada khalayak umum dan undangan yang hadir, yakni suguhan tarian khas Batak yang sangat terkenal, Tari Tor-Tor oleh enam orang remaja putra dan putri ‘Punguan Panjaitan’ dengan iringan musik organ dan pukulan ‘Gondang (gendang) Batak’ yang sangat khas sebagai hiburan penyemangat jiwa dan membuat suasana lebih hidup dan energik sehingga beramai-ramai baik wanitanya maupun pria secara dinamis turut bergoyang mengikuti alunan musik melodius yang dimainkan para seniman Batak, dengan memberikan uang pecahan Rp.2.000, Rp.5.000, Rp.10.000, Rp.20.000, Rp.50.000 yang diselipkan ke sela-sela jemari tangan setiap para penari dengan bertor-tor.

Dikatakan Bernhard, yang juga Kepala Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi Jambi ini, saat disinggung soal peranan adat istiadat dan warisan budaya Batak yang masih kental terpelihara dan dilestarikan di tanah rantau hingga sekarang ini demi pembangunan Jambi kedepan, menanggapi hal itu, menurutnya, sangat penting untuk menangkal pengaruh dari luar dan pengaruh arus globalisasi dewasa ini, terutama di kalangan muda generasi penerus.

Acara ‘Punguan Panjaitan Dohot Boruna’ dengan tema bersatu dan berkarya untuk kemajuan bersama antar seluruh Keluarga Marga Panjaitan di Provinsi Jambi -yang diperingati pada tahun ini, papar Bernhard, merupakan momentum, terutama di kalangan generasi muda dari masyarakat etnis Batak yang ada di perantauan untuk ikut serta membantu dan berperan menyukseskan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah demi kemajuan dan kesejahteraan seluruh masyarakat Jambi, termasuk masyarakat Batak yang ada di wilayah Provinsi Jambi dengan menjunjung tinggi adat istiadat dan tradisi budaya Batak di perantauan sehingga lebih sinergis dan berkesinambungan bagi kemajuan pembangunan Provinsi Jambi yang hendak dicapai kedepannya.

“Sesuai pepatah bijak, Dimana Bumi Dipijak- Disitulah Langit Dijunjung. Kita sebagai orang Batak sangat menjunjung tinggi adat istiadat yang berlaku dimana kami hidup sehingga mampu menangkal pengaruh dari luar dan pengaruh arus globalisasi dewasa ini di kalangan muda generasi penerus, terutama anak muda mudi kita (Suku Batak) di rantau. Dan kita pun, wajib dan bersinergis ikut serta membantu Pemerintah Daerah Jambi, serta ikut berperan mensukseskan seluruh sektor pembangunan di Provinsi Jambi untuk mewujudkan JAMBI EMAS tahun 2015, untuk kesejahteraan masyarakat Jambi,” tuturnya.

Ditambahkan Antoni Panjaitan, salah seorang tokoh muda Jambi asal Batak kepada media online ini, dirinya menyatakan adat istiadat dan budaya Batak dengan tradisi yang sangat begitu kental terus dikembangkan dan dilestarikan kepada seluruh masyarakat Batak di perantauan, termasuk di Provinsi Jambi dan Kota Jambi umumnya.

Walaupun demikian, tambah Antoni, setiap keluarga dan marga dari seluruh etnis Batak yang ada di tanah rantau berkewajiban untuk memelihara dan melestarikan warisan budaya milik leluhur kepada seluruh generasi penerus agar tidak punah ditelan arus globalisasi dan pengaruh negatif dari bangsa-bangsa luar ke Indonesia termasuk di Provinsi Jambi saat ini.

“Kami dari Keluarga Marga Panjaitan dan anak menantu se-Kota Jambi ini, setiap tanggal 25 Maret, setiap tahunnya selalu berkumpul dan bersilaturrahmi dengan menyelenggarakan kegiatan amal, dengan membantu dan menyantuni Keluarga Marga Panjaitan dan Boru dari keluarga tidak mampu. Dan juga sekaligus, memberikan beasiswa pendidikan bagi anak keluarga tidak mampu yang berprestasi di sekolah,” papar Antoni yang juga jurnalis ini.

Afrizal/B21.Com