Ubah Pola ‘Budaya Makan Bukan Nasi’ Sekarang Juga!!


Jambi – Berita21.Com: Secara umum dan filosofis, penganekaragaman konsumsi pangan merupakan upaya untuk memantapkan atau membudayakan pola konsumsi pangan yang beraneka ragam dan seimbang. Serta aman dalam jumlah dan komposisi yang cukup guna memenuhi kebutuhan gizi untuk mendukung hidup sehat, aktif dan produktif.

Mulailah, dengan meninggalkan pola budaya makan dengan beras atau nasi, sekarang juga. Mengapa demikian, tentu saja sangat erat kaitannya dengan imbauan pemerintah, melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

Dalam peraturan presiden itu, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mempercepat diversifikasi pangan, seperti advokasi, kampanye, sosialisasi ataupun melalui pendidikan tentang konsumsi pangan yang beragam, bergizi yang seimbang dan aman pada berbagai tingkatan kepada seluruh masyarakat. Disamping itu juga, perlu dilakukan pengembangan bisnis dan industri pangan lokal dengan memfasilitasi kepada UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) untuk pengembangan bisnis dan industri pangan yang berbasis sumber daya lokal, sekaligus diiringi dengan sosialisasi dan penerapan standar mutu dan keamanan pangan.

Menanggapi hal tersebut diatas, Kepala Badan Ketahanan Pangan Pemerintah Provinsi Jambi, Hanif Lubis menyatakan sekarang ini, pemerintah kembali menggiatkan pola budaya konsumsi pangan non beras untuk memenuhi kebutuhan pangan yang beragam, bergizi dan seimbang serta aman dalam jumlah dan komposisi yang cukup guna memenuhi kebutuhan gizi masyarakat untuk mendukung hidup sehat, aktif dan produktif.

Banyak faktor yang turut mempengaruhi kondisi dan situasi nasional saat ini, dijelaskan Hanif ketika menjawab kepada berita21.com, Rabu siang (11/04/2012) di Kota Baru, Kota Jambi. Dikatakan mantan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Pemerintah Provinsi Jambi ini, sudah lama pemerintah sejak era Orde Baru menggiatkan pola konsumsi pangan non beras melalui beragam jenis pangan lokal, yang juga banyak tumbuh di wilayah Provinsi Jambi ini, seperti singkong (ubi kayu), ubi jalar, kentang, sukun, ganyong (semacam sagu), garut, gadung (ubi utan), dan jagung.

“Sudah lama pemerintah sejak Orde Baru menggiatkan pola konsumsi pangan non beras ini. Kini, pemerintah kembali lebih menggiatkan pola konsumsi pangan melalui beragam jenis pangan lokal non beras sehingga mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat untuk mendukung hidup sehat,” paparnya.

Pemerintah melalui Peraturan Presiden RI Nomor 22 tahun 2009, ungkap Hanif menambahkan, berupaya mengantisipasi ancaman krisis pangan yang terjadi di dunia, termasuk di Indonesia sebagai wilayah yang sangat diharapkan oleh dunia internasional untuk dapat mengatasi ancaman krisis pangan tersebut.

Menurut Hanif, faktor perubahan iklim yang sekarang ini sangat menghantui seluruh isi penghuni Planet Bumi ini, terutama negara-negara pengekspor beras sudah membatasi ekspor berasnya sehingga sangat mempengaruhi ketahanan pangan di Indonesia. “Mau tidak mau, kita mesti mengatasi ancaman krisis pangan yang bakal terjadi kedepannya,” tegasnya menerangkan.

Disamping faktor perubahan iklim saat ini terjadi di seluruh belahan dunia. Masih oleh Hanif, minimnya lahan untuk hasil-hasil pertanian juga turut mempengaruhi kondisi dan situasi ketahanan pangan nasional. Karena, alasannya, lahan tersebut sudah banyak berubah alih fungsi sehingga penyediaan kebutuhan beras bagi masyarakat dirasakan makin sulit.

“Kita akui, sangat sulit mengajak masyarakat untuk merubah pola konsumsi makan bukan beras. Tapi, kita tidak pernah boleh berhenti untuk mengkampanyekan budaya makan bukan nasi,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Hanif Lubis, pada tahun ini pihaknya melakukan strategi kampanye dan sosialisasi ketengah masyarakat luas untuk menumbuhkan kesadaran agar beralih mengkonsumsi beras ke beragam jenis pangan lokal yang padat gizi, yang banyak tumbuh di wilayah Provinsi Jambi ini.

“Misalkan, biasa mengkonsumsi nasi sebanyak 3 kali sehari, dirubah menjadi 2 kali sehari, atau paling tidak apabila biasa makan nasi 3 kali sehari dikurangi porsinya, porsi nasinya setengah atau seperempat.

Dan juga, perlu diselingi dan ditambah dengan mengkonsumsi pangan non beras lainnya, seperti kentang, singkong atau ubi jalar, yang sangat banyak gizinya. Ahli gizi pun mengungkapkan bahwa setiap orang sudah sangat cukup apabila mengkonsumsi nasi sebanyak 95 kilogram/tahun/orang, jadi tidak perlu berlebihan karena itu sudah sangat cukup” demikian tuturnya.

Strategi dan upaya kampanye budaya makan bukan nasi yang dilakukan oleh Badan Ketahanan Pangan Pemerintah Provinsi Jambi, kata Hanif, pihaknya akan menggelar “Satu Hari Tanpa Nasi (One Day No Rice)” kepada seluruh masyarakat luas di Provinsi Jambi, yang rencananya akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. “Bayangkan, berapa ton beras, yang bisa kita hemat pada hari itu,” imbuhnya.

Saat sebelumnya di 2011, tambah Hanif, pemerintah daerah Provinsi Jambi juga menggelar kegiatan serupa saat makan pagi dengan menu pangan lokal non beras, bersama-sama Gubernur Jambi Hasan Basri Agus dan seluruh jajaran pimpinan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dilingkungan Pemerintah Provinsi Jambi. “Kita sarapan pagi dengan ‘sawut’, mie celor, mie singkong, beras singkong, dan yang lainnya,” bebernya.

Afrizal/B21.Com