Jenis Pangan Lokal Non-Beras yang tumbuh di Daerah Jambi


Jambi – Berita21.Com: Untuk mengetahuinya, berikut ini dipaparkan lebih jauh dari berbagai sumber mengenai beragam jenis pangan lokal non-beras, yang banyak sekali tumbuh di wilayah Provinsi Jambi ini. Guna untuk memenuhi kebutuhan dan ketahanan pangan masyarakat di wilayah ‘Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah’ seperti yang diulas dan disampaikan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Pemerintah Provinsi Jambi, Hanif Lubis kepada berita21.com.

Adapun jenis pangan itu, diantaranya tumbuhan Singkong (Ubi Kayu), Ubi Jalar, Kentang, Sukun, Ganyong (semacam Sagu), Garut (tumbuhan), Gadung (Ubi Utan), dan Jagung.

Singkong (Ubi Kayu)

Singkong, atau yang biasa juga dikenal sebagai ketela pohon, atau ubi kayu. Merupakan pohon tahunan tropika dan sub-tropika dari keluarga ‘Euphorbiaceae’. Umbinya, dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat, dan daunnya sebagai sayuran. Kandungan gizi dalam singkong ini, yakni per 100 gram, meliputi; Kalori 121 kal, Air 62,50 gram, Fosfor 40,00 gram, Karbohidrat 34,00 gram, Kalsium 33,00 miligram, Vitamin C 30,00 miligram, Protein 1,20 gram, Zat Besi 0,70 miligram, Lemak 0,30 gram, Vitamin B1 0,01 miligram.

Ubi Jalar

Ubi jalar, atau ketela rambat (Ipomoea Batatas, bahasa latinnya) adalah sejenis tanaman budidaya. Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya, yang membentuk umbi dengan kadar gizi yakni karbohidrat yang tinggi. Ubi jalar, dapat dibudidayakan melalui stolon/batang rambatnya. Cara menanam pun sangat mudah. Dengan mencangkul lahan yang mau ditanami sehingga stolon/batang rambat ubi jalar tersebut dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam tanah. Pemeliharaannya pun lebih mudah. Ubi jalar, yang akan tumbuh baik, bila lahan tersebut terkena sinar matahari langsung. Sedangkan pemeliharaan dari gangguan gulma, untuk menghindari persaingan unsur hara di sekitar tanamannya melalui pemberian pupuk urea atau pupuk organik sehingga dapat menambah hasil panen yang lebih bagus lagi. Untuk memanen ubi jalar ini, yaitu sebaiknya dengan mencangkuli di sekitar tanamannya agar mempermudah dan tanaman ubi jalar tersebut tidak menjadi rusak karena terkena cangkul, atau dengan alat-alat pertanian lainnya yang dapat merusaknya. Untuk diketahui banyak beragam manfaat ubi jalar, diantaranya yaitu daunnya untuk sayuran dan pakan ternak. Batangnya untuk bahan tanam dan pakan ternak. Kulit ubi jalarnya dapat digunakan sebagai pakan ternak. Ubi segarnya juga bisa digunakan sebagai bahan makanan, tepung ubi jalar bisa dimanfaatkan sebagai makanan, dan patinya dapat difermentasikan, serta dimanfaatkan sebagai pakan ternak unggas, dan yang lainnya.

Kentang

Kentang (Solanum Tuberosum, bahasa latinnya), merupakan tanaman dari suku ‘Solanaceae’ yang memiliki umbi batang yang dapat dimakan, dan lazim disebut juga dengan umbi kentang. Tapi tahukah anda, jika umbi kentang yang satu ini, merupakan penawar racun alami asam yang berlebihan (asidosis). Kentang sangat penting untuk membantu pertumbuhan bakteri dalam saluran pencernaan di dalam tubuh kita. Kandungan garam alkali, menjadikan kentang sebagai salah satu makanan ‘basa’ yang paling kuat. Karena itu, kentang sangat berguna untuk menjaga cadangan alkali dalam tubuh. Kentang sangat berkhasiat, diantaranya sebagai postassium, Vitamin C (sumber kedua selepas oren), membekalkan karbohidrat kompleks dan fiber, atau gentian kepada gula darah, serta pengawalan pada tekanan darah. Kentang juga mengandung Vitamin B1, B2 dan B3, serta sedikit kandungan Protein dan Zat Besi. Kandungan potassium dalam kentang sebanyak dua kali lipat, dari kandungan potassium dalam Pisang dan fiber. Jumlah lemaknya dibawah 25 persen sehingga dapat menghalangi endapan kolesterol di dalam lapisan saluran darah. Kentang ini, juga sangat cocok bagi yang mengalami kekurangan gula dalam darah. Selain sistem ketahanan tubuh, juga karena mengandung Vitamin dan Kalsium yang sangat tinggi.

Sukun

Sukun ini, adalah nama sejenis pohon dan buahnya hanya sekali. Buah Sukun, tidak berbiji dan memiliki bagian yang empuk, mirip dengan roti setelah dimasak atau digoreng. Karena itu, orang-orang Eropa mengenalnya sebagai ‘Buah Roti’ (Bread Fruit). Sukun, sesungguhnya adalah kultivar, yang terseleksi sehingga tak berbiji. Kata ‘Sukun’ itu sendiri, dalam bahasa Jawanya, yakni berarti ‘Tanpa Biji’ dan dipakai untuk kultivar tanpa biji pada jenis buah yang lainnya, seperti Jambu Klutuk dan Durian. Buah Sukun (Buah Tak Berbiji) merupakan salah satu bahan pangan penting sebagai sumber karbohidrat. Sukun dapat dimasak utuh, atau dipotong-potong terlebih dahulu, direbus, digoreng, disangrai atau dibakar. Buah Sukun ini, buahnya yang telah dimasak dapat diiris-iris dan dikeringkan dibawah sinar matahari, atau di dalam tungku sehingga awet dan dapat disimpan lebih lama. Pohon Sukun ini, dapat menghasilkan buah hingga 200 buah per pohon dalam satu tahun. Masing-masing berat buahnya mencapai antara 400-1.200 gram. Namun ada pula varietas. Yang buahnya mencapai 5 kilogram. Nilai energinya antara 470-670 kJ per 100 gram. Daging buahnya yang telah dikeringkan dapat dijadikan tepung, dengan kandungan pati sampai 75 persen, 31 persen gula, 5 persen protein, dan sekitar 2 persen mengandung lemak. Daunnya dapat dijadikan pakan ternak unggas. Kulit batangnya menghasilkan serat yang sangat bagus, yang pada masa lalu pernah digunakan sebagai bahan pakaian lokal. Getahnya digunakan untuk menjerat burung, menambal (memakal) perahu, dan juga sebagai bahan dasar permen karet. Kayu pohon sukun, atau Timbul berpola bagus, ringan dan cukup kuat sehingga kerap digunakan sebagai bahan alat-alat keperluan rumah tangga, kontruksinya ringan dan mampu membuat perahu. Timbul (yang berbiji) tadi lebih banyak dipetik tatkala masih muda, dan dijadikan sayur lodeh, sayur asam atau ditumis dengan cabai. Bijin timbul yang sudah tua, juga kerap direbus, digoreng, atau disangrai untuk dijadikan cemilan.

Ganyong

Ganyong (Canna Discolor, bahasa latinnya). Termasuk ke dalam suku Kana-kanaan (Cannaceae), yaitu sejenis tumbuhan penghasil umbi yang cukup popular namun kelestariannya semakin terancam karena tidak banyak orang yang menanamnya dan mengkonsumsinya. Umbi Ganyong, mengandung pati dan meskipun itu, tidak sebanyak ubi jalar. Ganyong sangat berpotensi sebagai sumber hidrat arang. Data Direktorat Gizi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan, kandungan gizi ganyong tiap 100 gram secara lengkap, terdiri dari; Kalori 95,00 kal, Protein 1,00 gram, Lemak 0.11 gram, Karbohidrat 22,60 gram, Kalsium 21,00 gram, Fosfor 70,00 gram, Zat Besi 1,90 miligram, Vitamin B1 0,10 miligram, Vitamin C 10,00 miligram, dan Air 75,00 gram.

Garut (Tumbuhan)

Garut, atau ararut/irut (Maranta Arundinaceae, bahasa latinnya) adalah sejenis tumbuhan berbentuk tema yang menghasilkan umbi, yang dapat dimakan. Garut ini, tidak pernah menjadi sumber pangan pokok namun ia kerap ditanam diperkarangan rumah dan di lading, di wilayah pedesaan umumnya, sebagai cadangan pangan dalam musim paceklik. Manfaat garut ini, terutama ditanam untuk umbinya, yang banyak menghasilkan pati yang berkualitas tinggi, berukuran halus dan berharga mahal. Disamping itu, rimpang garut juga dapat dijadikan sumber karbohidrat alternatif untuk menggantikan tepung terigu. Rimpang garut segar, mengandung Air 69-72 persen, Protein 1,0-2,2 persen, Lemak 0,1 persen, Pati 19,4-21,7 persen, Serat 0,6-1,3 persen, dan Abu 1,3-1,4 persen. Kemudian tepung garut, sangat baik untuk dikonsumsi oleh orang yang lemah, atau yang baru saja sembuh dari sakit. Karena mudah dicerna oleh penderita masalah perut, atau masalah usus. Tepung ini juga, sering digunakan sebagai pengenyal berbagai macam makanan, bumbu, sop, gula-gula, masakan dan makanan pencuci mulut , seperti puding, es krim, dan rimpang garut juga bisa dibuat menjadi bubur. Bubur rimpang ini, yang masih segar dapat digunakan sebagai obat oles luka dan luka bernanah. Patinya dicampur dengan air, atau susu yang digunakan untuk mengobati masalah-masalah perut, misalnya mengobati keracunan dan diare. Seluruh bagian rimpang garut, yang belum berserat dapat dimakan dengan cara dikukus atau dipanggang lebih dulu. Bubur yang dihasilkan dari rimpang itu, dapat dipakai dalam industri pabrik kertas, pembuatan karton, bantal, dan juga bahan papan tembok. Patinya sebagai bahan dasar bedak, lem dan sabun. Ampas sisa pembuatan tepung pun bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak unggas dan pupuk. Daunnya digunakan sebagai pembungkus. Sementara itu, beberapa kultivar garut dengan daunnya yang berwarna sangat menarik itu, digemari pecinta tanaman hias.

Gadung (Ubi Utan)

Gadung (Ubi Utan), nama latinnya Dioscorea Hispida, suku kegadung-gadungan, atau Dioscoreaceae. Gadung ini, tergolong tanaman umbi-umbian yang cukup populer walaupun kurang mendapat perhatian. Gadung menghasilkan umbi yang dapat dimakan. Namun gadung juga mengandung racun yang dapat mengakibatkan pusing dan muntah apabila kurang benar pengolahannya. Produk gadung, yang paling dikenal adalah dalam bentuk keripik, meskipun rebusan gadung juga dapat dimakan. Umbinya dapat pula dijadikan arak (difermentasi) sehingga di negeri jiran Malaysia, dikenal juga sebagai ubi arak, selain ‘taring pelandok’. Hati-hati dengan umbi gadung. Umbi Gadung ini, dikenal sangat beracun. Umbi ini, sering digunakan sebagai racun ikan atau mata panah. Sepotong umbi sebesar apel, cukup untuk membunuh seorang pria dalam waktu enam jam. Efek pertama, berupa rasa tidak nyaman di tenggorokan, yang berangsur-angsur menjadi terbakar rasanya. Diikuti oleh pusing, muntah darah, rasa tercekik, mengantuk dan kelelahan. Meski demikian di Indonesia dan China khususnya, parutan umbi gadung ini, digunakan untuk mengobati penyakit kusta tahap awal, kutil, kapalan dan mata ikan. Bahaya umbi gadung ini, karena mengandung zat yang disebut Dioscorin (C13H1902N). Zat Dioscorin ini, dapat mengakibatkan mual, muntah, pusing bahkan kematian. Walaupun beracun, umbi gadung juga bisa digunakan sebagai obat-obatan, seperti obat kusta, penurun panas, mengurangi rasa nyeri dan kencing manis. Inilah beberapa manfaat umbi gadung. Berikut ini, ada beberapa tahap pengolahan umbi gadung untuk menghilangkan racunnya. Ambil umbi gadung secara hati-hati agar tidak terluka. Tahapan pertama; potong umbi menjadi beberapa potong dengan menggunakan pisau yang tajam. Tahap kedua; yakni lumuri luka bekas potongan tersebut dengan abu dapur, dan biarkan atau simpan selama 24 jam. Tahap ketiga; kupas kulit potongan umbi gadung tersebut hingga bersih. Tahap keempat; cuci potongan gadung yang telah dikupas dalam air mengalir. Tahap kelima; masukkan potongan umbi gadung itu, ke dalam keranjang dan segera rendam dalam air garam selama 2-4 hari. Tahap keenam; angkat dan tiriskan potongan-potongan umbi gadung tersebut dari air garam, lalu cuci dengan air gula. Selanjutnya, tahap ketujuh; jemur potongan-potongan umbi gadung itu dibawah sinar matahari, dan tahap terakhir, yakni tahap kedelapan; ulangi perendaman dalam air garam, pencucian dengan air gula dan penjemuran hingga 2-3 kali agar racun dioscorin benar-benar hilang.

Jagung

Jagung (Zea Mays, bahasa latinnya), merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting. Selain gandum dan padi. Jagung juga, sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk di beberapa daerah di Indonesia, misalnya di Pulau Madura dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Jagung adalah komoditas pangan yang bisa dijadikan makanan pokok sehari-hari sebagai pengganti beras. Jagung sebagai bahan pangan menduduki urutan kedua setelah padi. Jagung merupakan sumber karbohidrat yang dapat diolah menjadi berbagai macam makanan. Hasil olahan jagung ini, nilainya tidak kalah dengan nasi dan bisa dikonsumsi sebagai makanan tambahan. Selain itu juga, jagung sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya dari bulir, dibuat tepung dari bulirnya, yang dikenal dengan istilah tepung jagung atau ‘Maizena’ serta dapat digunakan sebagai bahan baku industri, terutama dari tepung bulir dan tepung tongkolnya. Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung, selain dimanfaatkan untuk bahan pangan alternatif bagi manusia, juga untuk bahan pakan ternak unggas, bahan dasar industri makanan, industri gula, industri kimia, industri farmasi, industri minuman dan industri perekat. Jagung yang telah direkayasa genetika, juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi. Disamping itu, biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat ini, dapat mencapai 80 persen dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati, umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini, tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi. Tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis, diketahui mengandung amilopektin lebih rendah tetapi mengalami peningkatan fitoglikogen dan sukrosa. Adapun kandungan gizi pada jagung per 100 gram, adalah; Kalori 355 kal, Protein 9,2 gram, Lemak 3,9 gram, Karbohidrat 73,7 gram, Kalsium 10 miligram, Fosfor 256 miligram, Ferrum 2,4 miligram, Vitamin A 510 SI, Vitamin B1 0,38 miligram, dan Air 12 gram. Bagian yang dapat dimakan hampir 90 persen. Untuk ukuran yang sama, meski jagung mempunyai kandungan karbohidrat yang lebih rendah namun mempunyai kandungan protein yang lebih banyak. Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Pemanfaatan jagung, selain sebagai bahan pangan dan bahan baku pakan ternak unggas, sapi dan babi. Saat ini, jagung juga dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Lebih dari itu, saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepang, telah mencampur polimer jagung dan plastik menjadi bahan baku ‘casing komputer’ yang siap dipasarkan secara internasional ke seluruh mancanegara. Untuk diketahui, provinsi-provinsi penghasil jagung di Indonesia, diantaranya ialah Jawa Timur 5 juta ton, Jawa Tengah 3,3 juta ton, Lampung 2 juta ton, Sulawesi Selatan 1,3 juta ton, Sumatera Utara 1,2 juta ton, Jawa Barat 700-800 ribu ton, dan sisanya ada di sebagian di wilayah lainnya, seperti NTB, NTT, Jambi dan Gorontalo, dengan rata-rata produksi jagung nasional mencapai 16 juta ton per tahun. Produsen jagung terbesar saat ini, adalah Amerika Serikat yakni 38,85 persen dari total produksi dunia. Kemudian diikuti China 20,97 persen, Brazil 6,45 persen, Mexico 3,16 persen, India 2,34 persen, Afrika Selatan 1,61 persen, Ukraina 1,44 persen dan Canada 1,34 persen. Sedangkan untuk negara-negara Uni Eropa sebanyak 7,92 persen, dan negara-negara lainnya hanya 14,34 persen. Total produksi jagung dunia pada 2008-2009 adalah sebesar 791,3 juta MT.

wikipedia/net/Afrizal/B21

One thought on “Jenis Pangan Lokal Non-Beras yang tumbuh di Daerah Jambi

  1. Ping-balik: Antara Godaan Emas dan Pelestarian Hayat | bijak.net

Komentar ditutup.