Keimigrasian Tempatkan Petugas di Bandara Sultan Thaha


Jambi-Berita21.Com: Fenomena belakangan ini, sejak setahun terakhir dari catatan berita21.com, tidak kurang sekitar puluhan imigran ilegal, terutama imigran gelap asal Timur Tengah, seperti Afganistan, Pakistan dan Irak yang memasuki wilayah Provinsi Jambi menjadi perhatian yang sangat serius untuk dicermati.

Menanggapi fenomena ini, Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) RI wilayah Provinsi Jambi, Ace Herdarmin, melalui Kepala Divisi Keimigrasian Kantor Kemenkumham RI Kantor Wilayah Provinsi Jambi, I Gusti Kompiang Adnyana kepada berita21.com diruang kerjanya, Kamis (13/04/2012) di Kota Baru, Kota Jambi. Kompiang Adnyana menyatakan, pihaknya sudah melakukan langkah-langkah pencegahan melalui pintu masuk yang dianggap sangat strategis untuk dimasuki oleh para imigran illegal tersebut, seperti penempatan 2 orang petugas keimigrasian di lokasi Bandara Sultan Thaha Jambi.

“Untuk antisipasi hal itu, saya sudah instruksikan ke Kakanim Jambi (Mat Salim) untuk mengecek para penumpang-penumpang WNA (Warga Negara Asing) yang datang di airport (Bandara Sultan Thaha Jambi). 2 orang petugas imigrasi kita, ngepos disana untuk mengecek orang-orang asing yang tiba di airport untuk diperiksa kartu indentitasnya, kita periksa paspornya, dan identitas-identitas lainnya,“ papar Kompiang menjelaskan.

Ditambahkannya, untuk melaksanakan langkah-langkah tersebut, terutama masuknya orang-orang berkewarganegaraan asing yang diduga masuk ke wilayah Jambi melalui pintu masuk Bandara Sultan Thaha Jambi secara ilegal dapat dicegah. Untuk tindakan pencegahan ini, sebut Kompiang, pihaknya melakukan kerjasama dengan pihak PT (Persero) Angkasa Pura II.

Sementara itu, Kepala Bidang Intelijen Divisi Keimigrasian pada Kanwil Kemenkumham RI wilayah Provinsi Jambi, Daddy Suryadi menyebutkan sampai saat ini, jumlah warga negara asing yang ada di wilayah hukum Kanwil Kemenkumham RI wilayah Provinsi Jambi mencapai 142 orang asing.

Ke-142 WNA itu, sebut Daddy dengan rincian, yaitu 5 WNA memiliki ITK (Izin Tinggal Kunjungan), 126 WNA memegang ITAS (Izin Tinggal Sementara), dan 11 WNA mempunyai ITAP (Izin Tinggal Tetap).

Dipaparkan Daddy, warga negara asing yang berada di wilayah Provinsi Jambi ini, merupakan salah satu wilayah tujuan ITAS (Izin Tinggal Sementara) untuk bekerja dan belajar. Hampir 60 persen, tambah Daddy, mereka adalah WNA yang berstatus sebagai pelajar asal negeri Jiran Malaysia, dan kini sedang menimba ilmu di perguruan tinggi Institut Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

Sedangkan WNA yang lainnya, ungkap Daddy menjelaskan, mereka bekerja di sektor-sektor industri, seperti pekerja di perusahaan perkebunan PT. Lontar Papyrus Pulp and Paper Jambi, dan pekerja di perusahaan pertambangan migas di lokasi PT Petro China International Jabung Ltd.

Saat disinggung soal masuknya para imigran ilegal pencari suaka asal Timur Tengah ke wilayah Provinsi Jambi dengan mudah, seperti imigran asal Afganistan, Pakistan, Irak dan Iran. Daddy Suryadi menduga, para imigran ilegal pencari suaka tersebut ada men-supportnya.

“Mungkin saja, ada support dari warga kita sendiri yang berada di tanah air, atau ada agen dari lintas negara. Motif ini yang kita telusuri lebih lanjut,” ujarnya.

Secara umum, Daddy menggambarkan secara detil, para imigran ilegal asal Timur Tengah itu, menggunakan jalur masuk Pekanbaru (Provinsi Riau)-Dumai (Provinsi Riau)-Malaka (Negara Malaysia) via Selat Malaka lalu masuk ke wilayah Indonesia via Aceh terus melalui jalur darat hingga sampai ke wilayah Jambi.

“Negara Malaysia ini, memang sudah lama menjadi tempat penampungan para imigran gelap dari Timur Tengah, seperti Afganistan, Irak atau Iran, dan Pakistan,” demikian sebutnya.

Afrizal/B21