Kejahatan Bandar Narkoba ‘Lebih Sadis’ Daripada Teroris, Sehari 51 Orang Mati Sia-sia


Jambi-Berita21.Com: Mengapa judul diatas ditulis oleh penulis dengan harapan seluruh komponen bangsa harus lebih serius dan harus lebih waspada dalam menangani narkoba, karena dampaknya sehari 51 orang telah meninggal dunia sia-sia akibat narkoba, sesuai data hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2008.

Belum lagi yang tidak terungkap. Karena ditutup-tutupi oleh keluarganya. Karena malu aibnya tersebar, begitu juga dari instansi/organisasinya bila oknumnya meninggal dunia akibat over dosis mengkonsumsi narkotika dan obat-obatan haram lainnya, atau juga karena terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus)/AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) akibat pengguna narkoba.

Tapi kelihatannya justru penanganannya tidak sewah-wahnya nian, atau seserius banget, dan setakut seperti penanganan aksi teroris yang biasa kita tonton di layar televisi atau membaca di koran-koran dan media online di internet. Sepertinya, malah biasa- biasa saja tuh.

Contoh saja, dilingkungan masyarakat dan warga setempat sepertinya rasa takut mereka kurang begitu ‘gregetnya’ daripada menghadapi para pelaku terorisme. Misal beredar kabar ada narkoba dilingkungan sekitar rumahnya, atau diingkungan pergaulan kerjanya, atau di sejumlah tempat-tempat hiburan lainnya, seperti diskotiq, bar dan karaoke, salon yang dijadikan karaoke, mess penginapan dan hotel di lokasi tempat wisata, dan sebagainya.

Koq malah, masyarakat dan warga setempat diam aja tidak cepat ditangani, atau ditangkap, atau dilaporkan kepada petugas dan aparat yang berwenang, atau diberantas seperti aksi teroris. Padahal korban penyalahgunaan narkoba jauh lebih banyak daripada korban teroris, dan tidak juga secara serius penanganannya seperti penanganan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), Flu Burung, Flu Babi, dan lainnya. Padahal dampaknya lebih parah pada kasus narkoba ini. Karena narkoba sudah sangat merusak jiwa dan raga para generasi penerus bangsa ini, dan jumlah korban yang meninggal dunia pun sungguh-sungguh sangat fantastis dan sangat luar biasa.

Belum lagi rasa penderitaan bila salah satu keluarganya terlibat menggunakan narkoba, diantaranya :

1. Harta kekayaan dan isi rumahnya bisa terkuras habis dijual untuk membeli narkoba.

2. Menjadi sakit fisiknya dan jiwanya atau gila, terkena HIV (Human Immunodeficiency Virus)/AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), meninggal dunia karena over dosis.

3. Menjadi pelaku tindak kriminal (pencuri, penipu, pembunuh, pengedar narkoba, dan sebagainya) akibatnya ia ketangkap dan masuk penjara.

4. Menghabiskan biaya untuk berobat di rumah sakit, tempat rehabilitasi, rumah sakit jiwa dan bisa membuat orang tuanya stress, dan malu sehingga dapat meninggal dunia.

5. Merusak dirinya sendiri, masa depannya sendiri dan keluarganya.

6. Memasukkan dirinya sendiri ke lubang neraka jahanam, dan selalu berbuat dosa.

7. Yang paling bahaya mendukung pergerakan kegiatan para pelaku teroris. Karena pelaku teroris menjual narkoba, atau sebagai bandar narkoba dan hasilnya atau keuntungannya, untuk memperbesar organisasi terorisnya. Untuk merekrut orang-orang yang masuk ke dalam kelompoknya dengan segala tipu muslihat dan sangat licik, dengan segala tipu dayanya berupaya untuk menjadi anggota teroris dengan banyaknya kekuatan uang yang ia miliki, untuk membeli bahan-bahan peledak atau bom, membeli senjata, melancarkan kegiatannya untuk menyewa/mengontrak rumah, bayar hotel, membeli kendaraan untuk dipasangi bom, seperti kejadian pengeboman di Bali dan DKI Jakarta.

Apakah kita tega, diam dan untuk tidak mengatakan ‘anti narkoba’ dan memeranginya dengan memberantas narkoba, serta tidak berbuat nyata untuk menanganinya secara serius untuk mencegahnya dan memberantas narkoba di negari yang kita cintai ini.

Maukah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini hancur, karena generasi penerusnya telah banyak yang menggunakan narkoba. Maukah negeri Indonesia yang sangat besar ini, makin menumbuh suburkan berkembangnya bibit-bibit dan tunas-tunas teroris-teroris karena saking bebasnya ia sehingga sangat marak peredaran narkoba sekarang ini di seluruh wilayah Indonesia.

Apakah kita sebagai bangsa, membiarkan terus-menerus peredaran narkoba dan bahan adiktif lainnya yang masuk dan lolos terus-menerus secara ilegal atau legal ke Indonesia, termasuk ke wilayah Provinsi Jambi dan disalahgunakan oleh seluruh anak bangsa di tanah air tercinta ini, termasuk wilayah di ‘Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah’ yang sudah begitu sangat kondusif dan merupakan daerah dan wilayah teraman di Indonesia ini, makin terusik oleh ancaman narkotika dan obat-obatan dan zat adiktif berbahaya lainnya kepada seluruh putra-putri negerinya Pahlawan Nasional yang begitu sangat terkenal, Pahlawan Sultan Thaha Syaifuddin ini.

Padahal kita ketahui, Indonesia belum bisa membuat narkoba, atau bahan adiktif ini. Kecuali tanaman ganja yang bisa tumbuh di Indonesia, yaitu di wilayah Aceh. Ini berarti, kita mesti bersama-sama menjaga masuknya narkoba ini dari jalur masuk yang resmi dan tidak resmi, dari luar negeri dan harus secara terbuka dan transparan dalam penanganannya.

Untuk diketahui, sekedar mengingatkan bahwa di Provinsi Jambi dari data yang didapat berdasarkan hasil penelitian dari Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jambi, adalah sebagai berikut;

1. Jumlah pengguna/penyalahguna narkoba sebanyak 50.420 orang, menempati Rangking Ke-4 se-Indonesia dari 33 Provinsi di seluruh nusantara.

2. Peredaran narkoba menduduki Rangking Ke-16 dari 33 Provinsi yang ada di wilayah tanah air kita.

3. Yang tercatat di Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jambi, yang terkena HIV (Human Immunodeficiency Virus)/AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) totalnya mencapai 555 orang.

4. Data pelaku yang tertangkap dan diproses hukum di 2010 sebanyak 289 kasus, 2009 sebanyak 278 kasus, 2008 sebanyak 270 kasus.

Jadi mengapa pengedar dan Bandar narkoba lebih sadis daripada aksi teroris. Karena, bila narkoba terjual banyak maka korban yang meninggal dunia akan lebih banyak lagi, dan dari hasil keuntungannya digunakan oleh kelompok teroris untuk melaksanakan kegiatan aksi terornya untuk membunuhi orang-orang tak berdosa, dan mengebom orang-orang dengan cara-cara keji dan tak berprikemanusiaan.

“Jadi para Bandar narkoba kanan-kiri oke. Membunuh semua kedua-duanya, baik ia jual narkoba dan juga kegiatan terorisnya”.

Oleh karena itu, stop narkoba sekarang juga melalui gerakan melakukan P4GN (pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan narkoba dan peredaran gelap narkoba, serta melaksanakan Intruksi Presiden RI Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan kebijakan, Strategi Nasional Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba tahun 2011-2015 Sehingga penulis sangat berharap kepada seluruh masyarakat Indonesia, termasuk di Provinsi Jambi untuk menjauhi dan memberantas narkoba sampai keakar-akarnya.

Ayo berantas narkoba dan aksi teroris secara sekaligus bersama-sama untuk mewujudkan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat dan ketahanan nasional kita. Yang sudah menjadi korban, mari kita sembuhkan mereka juga bersama-sama, untuk mewujudkan ‘Indonesia Bebas Narkoba’ dan ‘Jambi Bebas Narkoba’ menyongsong JAMBI EMAS (Ekonomi, Maju, Aman, Adil dan Sejahtera) di 2015 yang akan datang.

(Penulis adalah Kepala BNN Provinsi Jambi, Kombes Pol. Drs. Mohammad Yamin Sumitra, tinggal di Jambi).

Afrizal/B21