Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Keluarga Melemahkan Bahasa Jawa


SEMARANG-berita21.com: Semakin banyaknya penggunaan Bahasa Indonesia dalam keluarga di Jawa Tengah diperkirakan semakin melemahkan penguasaan Bahasa Jawa pada masyarakat.

Pemahaman dan pemakaian Bahasa Jawa terutama Bahasa Jawa Halus dan Kromo Inggil semakin ditinggalkan pada sebagian masyarakat Jawa, sehingga Bahasa Jawa semakin banyak ditinggal masyarakat pemakainya.

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah Slamet Efendi mengungkapkan, untuk melestarikan pemakaian Bahasa Jawa diharapkan dapat dimulai dari lingkungan keluarga disamping dipelajari secara khusus di sekolah sekolah. “Penggunaan Bahasa Indonesia dengan meninggalkan Bahasa Jawa dalam keluarga merupakan penyebab utama lemahnya pemahaman terhadap Bahasa Jawa di masyarakat. Kalau tidak segera diatasi Bahasa Jawa bisa punah,” ungkap Slamet Efendi yang dihubungi wartawan di sela sela kunjungan kerja di Balai Bahasa Bandung Jawa Barat, Kamis (19/4).

Kunjungan kerja yang dilaksanakan dalam rangka penyusunan rancangan peraturan daerah (raperda) Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa ini, diketahui bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan Balai Bahasa Bandung, Masyarakat di Jawa Barat tinggal 40 persen yang masih menggunakan Bahasa Sunda dalam komunikasi sesama anggota keluarga.

Slamet Efendi memperkirakan, kondisi ini tidak jauh berbeda yang terjadi di masyarakat Jawa Tengah. Diharapkan melalui raperda yang sedang disusun ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dapat membuat upaya upaya kongkrit yang bisa menjadi pedoman bagi masyarakat agar Bahasa Jawa dapat terlindungi dan berkembang.

Beberapa upaya yang harus dilakukan pemerintah, tambah Slamet Efendi, Salah satunya adalah perlunya dibentuk Lembaga Pengembangan Bahasa Daerah. Melalui lembaga ini diharapkan bisa dibentuk pedoman pengajaran berupa kurikulum muatan lokal (mulok) Bahasa Jawa yang akan diajarkan di sekolah baik dasar maupun lanjutan.

“Disamping itu beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain, pemberian penghargaan bagi masyarakat yang melakukan action riil dalam pengembangan Bahasa Jawa, membuat kegiatan kegiatan lomba penulisan maupun kegiatan lain yang dapat merangsang masyarakat lebih bangga menggunakan Bahasa Jawa,” jelasnya.

Sementara itu tim ahli yang terlibat dalam pembuatan Raperda Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa Drs Sutadi mengungkapkan, upaya perlindungan dan pengembangan Bahasa Jawa yang sedang dilakukan diharapkan dapat segera terwujud dan dapat mencegah Bahasa Jawa dari kepunahan. Raperda ini kalau sudah disahkan, merupakan perda perlindungan bahasa daerah yang ke lima setelah Provinsi Bali, Gorontalo, Kalimantan Selatan dan Jawa Barat yang sudah terlebih dahulu memilikinya.

Sumber: berita21.com

Kholis/B21