Narkoba Ancaman Keutuhan Wilayah NKRI


Penyalahgunaan Narkoba hingga kapanpun tetap merugikan siapapun juga, baik sipengguna maupun keluarga akan menderita

Kepada diri si pengguna/penyalahguna narkoba. Dampak bahayanya, antara lain; kesehatannya sangat berbahaya sekali, baik fisik maupun psikis. Pengaruhnya kepada kehidupan sosialnya. Kehidupan pendidikannya. Kehidupan beragamanya. Terjerat tindak pidana yang berujung pada kurungan penjara oleh putusan pengadilan. Lebih mengenaskannya lagi, sampai-sampai si pengguna meninggal dunia sia-sia akibat penyalahguna narkoba.

Kemudian dampaknya kepada keluarga besar si pengguna/penyalahguna narkobanya itu sendiri, diantaranya keluarga besarnya merasa malu, dikucilkan, dihina/direndahkan, dirugikan secara moril maupun materil, keluarga menjadi stres, serta dapat tertular penyakit yang sangat berbahaya yang hingga kini belum ada obatnya di dunia, seperti terjangkit HIV (Human Immunodeficiency Virus)/AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).

Disamping itu juga, yang lebih berbahayanya lagi berdampak terhadap Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan dan Keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Agama (IPOLEKSOSBUD HANKAM NKRI dan Agama).

Adapun dampak terhadap IPOLEKSOSBUD HANKAM NKRI Dan AGAMA, tersebut, mencakup;

1. Idelogi

Idelogi menjadi sangat lemah. Karena acuh dan cuek terpangaruh oleh halusinasi yang timbul akibat penyalahguna narkoba itu. Dan bahkan ideologinya pun mudah digoyang, atau dihancurkan oleh lawan/musuh yang ingin menghancurkan seluruh anak bangsa di negeri tercinta ini.

2. Politik

Politik pun sangat ikut berpengaruh atau dampaknya terhadap keberlangsungan kehidupan berpolitik di negara dan bangsa Indonesia ini. Sehingga isu politik dapat digunakan oleh para pelaku politik untuk menjatuhkan lawan politiknya, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Sehingga perkembangan kehidupan berpolitik menjadi lebih terpuruk karena digunakan untuk kegiatan yang negatif bagi kepentingan segelintir kelompok maupun kepentingan golongannya.

Contohnya; yang secara langsung, yaitu dengan jebakan narkoba atau dipancing dengan narkoba terhadap diri lawan politiknya, ataupun terhadap keluarganya sehingga terkena sanksi tindak pidana, ataupun tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan konsentrasi pekerjaannya sangat terganggu.

Yang tidak langsung, yakni pelaku lawan politiknya yang lagi berkuasa dijatuhkan ditengah jalan sebelum masa kepemimpinannya berakhir dengan maraknya peredaran gelap narkoba di tengah masyarakat luas, yang notebene rakyatnya sendiri sehingga dia binggung untuk menanganinya dan memberantasnya. Pikirnya, harus ia mulai dari mana untuk memberantas peredaran gelap narkoba yang ada diwilayahnya sendiri, dan akhirnya dia dianggap tidak becus dan tidak mampu memimpin pemerintahannya oleh rakyatnya sendiri, dan akhirnya dia harus ‘lengser’ atau mundur dari kursi kekuasaannya.

3. Ekonomi

Bila penyalahguna/si pengguna narkoba di Provinsi Jambi saja bisa mencapai 50.420 orang, dan rata rata tiap bulan menghabiskan uang sebanyak Rp. 500.000. Jadi selama 1 tahun (12 bulan) saja sudah berapa banyak uang yang harus ia keluarkan untuk mengkonsumsi narkoba. (50.420×500.000×12 sama dengan Rp..??). Berarti uang yang sia-sia dia gunakan untuk membeli narkoba sangatlah banyak. Coba bila uang tersebut untuk membangun infrastruktur pembangunan di pelsok pedesaan, membangun sekolah rusak atau untuk membangun kepentinganpen rakyat dan memenuhi kebutuhan utama rakyat yang lainnya, baik ketahanan pangan maupun pengolahan produk hasil-hasil pertanian, peternakan, perikanan dan yang lainnya, sangat luar biasa sekali.

Berapa dana yang harus dikeluarkan, baik oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan pemerintah kota, serta oleh pihak keluarga besar si pengguna tadi untuk mengobatinya, merehabilitasinya, pasca rehabilitasinya, P4GN (pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan narkoba dan peredaran gelap narkoba), serta biaya pemakaman –yang rata-rata di Indonesia seharinya pengguna/penyalahguna narkoba yang menjadi korban meninggal dunia akibat narkoba itu mencapai 51 orang. Ditambah lagi yang terkena atau terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus)/AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), yakni mencapai 555 orang.

Apalagi bila dikalikan di seluruh daerah Indonesia, yang jumlahnya 33 provinsi. Berapa banyak uang negara yang bersumber dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) yang digunakan untuk menangani narkoba.

4. Sosial Budaya

Dari mulai dikucilkan, dicemooh, dihina, dipermalukan dan dijatuhkan harga dirinya yakni penyalahguna maupun keluarganya dianggap masyarakat sebagai sampah. Apalagi bila sudah parah terkena penyakit, baik fisik maupun psikis (jiwa) dan terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus)/AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome).

Semua pihak (baik keluarga besarnya, di lingkungan masyarakat tempat dia dan keluarganya bertempat tinggal, dan juga kepada pihak pemerintah) merasa dirugikan baik moril maupun materil. Juga di dalam mensosialisasikan penyalahguna/si pengguna narkoba itu sendiri agar diterima kembali ditengah-tengah masyarakatnya dengan baik dan wajar, sangat sulit sekali.

Dari sisi budaya. Bergesernya dari nilai-nilai budaya yang dahulu sangat perhatian terhadap sesama dan lingkungannya. Ramah-tamah, sopan santun, gotong royong, etis dan beradab. Tapi kini justru dengan pengaruh narkoba yang ia konsumsi, justru pribadinya sangat dipenuhi dengan sikap keacuhan, apatis, cuek, pengendalian diri yang sudah sangat melemah, bahkan hilang dan dipenuhi dengan kesakitan, kegilaan, kekerasan, kejahatan/berjiwa kriminal, dan lain sebagainya.

5. Pertahanan Keamanan NKRI

Bila penduduk Provinsi Jambi sebanyak kurang lebih 3 juta orang dalam keadaan sehat wal’afiat, dan tidak menggunakan narkoba. Berarti yang akan mempertahankan atau membela NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) berjumlah 3 juta orang. Tapi bila yang menggunakan narkoba sebanyak 50.420 orang, berarti kekuatan akan berkurang sebanyak 50.420 orang. Karena sudah terpengaruh narkoba karena oleh sikap keacuhannya, apatis, cuek, kurang sehat jasmani maupun rohaninya, untuk membela negara dan bangsanya. Apalagi bila dijumlahkan di seluruh daerah Indonesia sangatlah banyak. Belum lagi jumlah aparat, keluarga, dan keluarga yang sedang stres yang sedang menangani penyalahguna/si pengguna/ korban narkoba.

Keamanan. Dari sisi keamanan dalam negeri pun amat berdampak sekali pengaruhnya. Penyalahguna/si pengguna yang selalu ketagihan, akan selalu mencari uang untuk membeli narkoba. Yang ada uang/memiliki uang akan habis, dan yang akan mencari dengan menggunakan jalan pintas dia akan berjiwa kriminal, seperti mencuri, merampok, menggarong, menipu, berjudi, menggelapkan, jadi pengedar, menganiaya, membunuh. Bila ia seorang pegawai di salah satu instansi negara/dinas dan badan resmi pemerintah atau seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta dia akan berbuat korupsi hanya untuk bisa memperoleh barang haram tersebut, dan yang lainnya.

6. Agama

Mulai acuh/cuek, lupa dan menjauh dari ajaran agama dimulai dari diri sendiri, mengajak atau menambah orang lain yang mengikuti jejaknya sebagai pengkonsumsi narkoba, yang semakin lama semakin banyak hingga semuanya terjermus di dalam dunia narkoba. Bila ini terus menerus dibiarkan, maka banyak orang yang sudah meninggalkan ajaran agamanya. Norma agama merupakan salah satu sendi agama bagi perjalanan hidup manusia di dunia maupun di akherat untuk kemaslahatan umat di seluruh muka ‘Planet Bumi’ ini.

Maka yang akan timbul, mulai secara perlahan-lahan hilanglah rasa kemanusiaannya, dan akan timbul rasa kebinatangan atau tidak berprikemanusiaan karena pengendalian diri yang sudah jauh berkurang sehingga menjadi acuh dan cuek. Terjadi pergaulan bebas (seks bebas dan kenakalan bebas di kalangan pemuda dan pelajar, tawuran, premanisme, kekerasan, kejahatan yang sangat meresahkan masyarakat, serta yang lainnya).

Inilah wacana yang perlu saya sampaikan untuk dapat terpanggil dari seluruh elemen dan komponen bangsa untuk bersama-sama menangani ancaman narkoba yang sudah sangat akut terjadi di negeri tercinta Republik Indonesia, termasuk wilayah ‘Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah’ yang sangat kita cintai ini.

Perlu diketahui, bahwa Provinsi Jambi sudah sangat memprihatinkan dari data yang diperoleh hasil penelitian BNN dan Universitas Indonesia (UI), Direktorat Narkoba Polda Jambi, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Jiwa Daerah Jambi, Dinas Sosial, LSM Jothi dan LSM Sikok, adalah sebagai berikut;

1. Penyalahgunaan/pemakai narkoba peringkat ke-6 se-Indonesia dari 33 provinsi yang ada di seluruh Nusantara, yakni jumlah pemakai/pengguna mencapai 50.420 orang di 2010.

2. Peredaran narkoba di wilayah Provinsi Jambi sekarang ini, menduduki peringkat Ke-16 se-Indonesia.

3. Meninggal dunia akibat penyalahgunaan/pemakai narkoba sehari-hari, rata-rata mencapai 51 orang di seluruh Indonesia.

4. Yang diproses hukum oleh Direktorat Narkoba Polda Jambi dan jajarannya, yakni 2008 sebanyak 175 perkara, 2009 sebanyak 266 perkara, dan 2010 mencapai 227 perkara.

5. Yang terkena HIV (Human Immunodeficiency Virus)/AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) sebanyak 578 orang akibat penyalahgunaan narkoba per-November 2011.

6. Yang dikirim ke Lido, Jawa Barat untuk direhabilitasi sudah melebihi kapasitas tiap tahunnya. dari Jambi kapasitasnya hanya 10 orang tiap tahunnya, sudah dikirim sampai 18 orang bahkan lebih. Belum yang berobat inap dan berobat jalan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jambi, yang paska rehabilitasi yang dalam penanganan LSM Jothi dan LSM Sikok, yakni sekitar 200 sampai dengan 500 orang. (data ini, sewaktu-waktu bisa berubah sesuai waktu penelitian dan pendataannya).

Melalui P4GN (pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan narkoba dan peredaran gelap narkoba) serta sesuai Intruksi Presiden RI Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan kebijakan, Strategi Nasional Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba tahun 2011-2015. Semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, memberikan petunjuk dan menyadarkan kita semua. Amin Ya Robbal Alamin.

(Disampaikan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jambi, Kombes Pol. Drs. Mohammad Yamin Sumitra, 21 April 2012)

Afrizal/B21