Disbun Jambi: 117.000 Hektar Kebun Karet Rakyat Sudah Tua


Peremajaan kebun karet rakyat, atau Replanting Karet di Provinsi Jambi, yang digulirkan sejak 2006 hingga sekarang kini sudah dinikmati petani.

Diungkapkan Kepala Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Jambi, Tagor Mulia Nasution, yang disampaikan oleh Kepala Bidang Produksi Perkebunan pada Kantor Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Jambi, Alder Lubis menyebutkan sejak dimulai pada 2006 lalu, program pengembangan karet rakyat yang dilaksanakan oleh Pemeritah Provinsi Jambi selama 2006 sampai dengan 2012 melalui peremajaan karet ini, baik itu bersumber dari APBN, APBD provinsi dan APBD pemerintah daerah kabupaten, hasil-hasil produksi karet milik petani sekarang ini sudah bisa dinikmati, terutama upaya peremajaan karet rakyat yang sudah dilaksanakan selama 2006, 2007 dan 2008.

Karena alasan Alder, upaya pemerintah daerah untuk peremajaan kebun karet rakyat ditingkat petani tersebut, hasilnya baru bisa disadap bila usianya mencapai 4 tahun. “Kalo sudah 4 tahun, petani sudah menikmati hasil sadapnya,” ujarnya menjawab kepada berita21.com diruang kerjanya, Kamis (26/04/2012) di Telanaipura, Kota Jambi.

Manfaat dari pelaksanaan program peremajaan karet rakyat itu, tambah Alder, khususnya bagi pendapatan dan penghasilan ditingkat petani maupun keluarganya lebih meningkat. Kemudian PDRB Provinsi Jambi pun turut meningkat, serta tumbuh dan berkembangnya ekonomi masyarakat di pedesaan, paparnya.

Dikatakan Alder Lubis, sejak 2006 sampai sekarang, pencapaian dari program pengembangan karet rakyat yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah melalui peremajaan karet kali ini, dari 650 ribu hektar pencapaiannya lebih kurang 90 ribuan hektar.

“Sisanya itu, masyarakat sudah lama berkebun karet sehingga kita sebagai salah satu provinsi penghasil karet secara nasional nomor tiga, dibawah setelah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, diceritakan Alder, upaya peremajaan kebun karet di tingkat petani harus benar-benar dilakukan oleh petani itu sendiri.

Sebab, menurut Alder, erat kaitannya dengan pendanaan oleh karena itu pihaknya hanya memotivasi sesuai kemampuan petani untuk meremajakan kebun karetnya sehingga menjadi mampu dan berhasil.

“Kita hanya mampu memotivasi saja sesuai kemampuan petani untuk meremajakan kebun karetnya. Sebab upaya ini akan segera berakhir pada 2012 ini, sejak dimulai pada 2006 lalu,” akunya.

Sampai sekarang ini, sambung Alder, kebun karet rakyat yang sudah tua yang benar-benar perlu untuk dilakukan peremajaan, totalnya mencapai lebih kurang 117.000 hektar. Semuanya, kata Alder, tergantung bagaimana upaya pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyelesaikan 117.000 hektar tersebut, sehingga menjadi kebun karet yang produktif dan berkualitas, sarannya.

Seraya mengharap, sebut Alder, kebun karet milik petani yang sudah disadap itu, tentu akan menjadi tua, dan begitu juga dengan yang lainnya yang sudah dilakukan melalui program peremajaan karet sejak 2006 sampai sekarang.

Pihaknya, kata Alder lagi, itu artinya replanting karet tetap berlangsung terus sampai dunia kiamat. “Semuanya itu, terkait erat dengan pendanaan lagi, yang menjadi kendala,” demikian imbuhnya.

Afrizal/B21