Pelayanan RSUD Cianjur dinilai buruk


CIANJUR, Berita21.com.-Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur dinilai buruk. Pasalnya, RSUD terkesan tidak siap mengantisipasi membludaknya pasien yang sebagian besar pasien miskin dengan Jamkesmas.

Selain banyak pasien yang terpaksa dirawat di lorong-lorong ruangan RSUD, pasien rawat inap juga mengeluhkan susahnya mendapatkan air.

“Seharusnya sebagai rumah sakit pemerintah yang melayani pelayanan Jamkesmas untuk masyarakat kurang mampu tidak mampu memberikan pelayanan yang layak terhadap pasien, seperti tidak adanya air bersih selama beberapa hari sangat merugikan pasien,” ucap Lembaga Bantuan Kesehatan (LBK), Sobari, Rabu (2/5).

Sobari Juga menambahkan “Mungkin alasan RSUD masuk akal karena kekurangan ruangan. Namun, ini menunjukkan ketidaksiapan RSUD dalam mengantisipasi membludaknya pasien, khusunya pasien Jamkesmas,” katanya.

Kondisi tersebut, kata Sobari, justru menandakan jumlah orang miskin di Cianjur semakin banyak. Tren pengguna Jamkesmas tiap tahun semakin bertambah, sehingga kemampuan RSUD yang terbatas membuat pelayanan semakin buruk.

“Air bersih yang menjadi kebutuhan dasar pasien sering dikeluhkan ketika sore hari. Air tidak ngocor, sehingga pasien maupun penunggu pasien kesulitan mendapatkan air bersih,” tuturnya.

Hal ini, kata Sobari, sudah banyak dikeluhkan pasien, namun belum juga ada penanganan serius. Bahkan, hingga kini juga masih berlangsung.

“Ini menjadi catatan buruk bagi RSUD dibidang pelayanan. Kami mengharapkan RSUD segera berbenah dan Pemkab Cianjur semakin peka menangkap persoalan kesehatan di Cianjur,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Bidang Pelayanan, Toton Suryotono saat dikonfirmasi mengakui hal tersebut. Namun, meskipun demikian fasilitas penabahan sumur air sudah dilakukan.

“Kini kami sudah mempunyai empat sumur sumber air. Tapi, tetap juga belum bisa mengimbangi kebutuhan air,” katanya.

Toton mengatakan sebenarnya kebutuhan air hanya untuk pasien pasti terpenuhi. Namun, yang menjadi masalah justru kebutuhan air terkuras untuk para penunggu pasien.

“Pembatasan penunggu pasien hanya dua orang susah kami lakukan. Kebanyakan dari keluarga pasien yang semuanya ingin menunggui. Jadi susah juga kami lakukan,” ucapnya.

Sedangkan persoalan overloadnya pasien hingga menyebabkan pasien dirawat di lorong-lorong rumah sakit memang menjadi persoalan lama.

“Kami sudah lama menginginkan adanya penambahan ruangan dan tempat tidur. Namun tetap juga lama untuk direalisasikan. Tahun ini rencananya akan ada pembangunan ruangan untuk penempatan 34 tempat tidur sebesar Rp 2,5 miliar dari bantuan Porvinsi Jawa Barat,” ujarnya.

Tonton membantah jika RSUD dinilai tidak siap menghadapi membludaknya pasien. Namun, memang keterbatasan fasilitas yang ada tidak berimbang dengan jumlah pasien.

“Kan tidak mungkin kami membatasi pasien yang ingin berobat dan memang harus dirawat inap. Justru yang menjadi persoalan adalah jumlah rumah sakit di Cianjur yang sedikit. Hanya ada dua RS dan itu sangat tidak ideal.” ucapnya.

Wakil Bupati Cianjur, Suranto mengatakan untuk mengatasi hal tersebut akan merencanakan pembangunan RSUD baru di Wilayah Cianjur Selatan dan akan ditempatkan di Kecamatan Sukanegara.

“Kami juga tidak ingin RSUD yang ada sekarag ini menjadi puskesmas raksasa sehingga berdampak pada buruknya pelayanan. Oleh karena itu, pembangunan RSUD baru di Cianjur selatan mendesak untuk direalisasikan untuk mewakilai keberadaan RSUD bagi masyarakat Cianjur Selatan.” katanya.

Sumber: Berita21.Com

Epul/Pedi/B21.Com