Rancang Bangun Masa Depan Pers Nasional (2)


Rancang bangun pers nasional ke depan itu, intinya membangun pers yang sehat.

Pengurus PWI merumuskan beberapa hal yang mendasar yang terkait dengan perkembangan pers nasional. Misalnya tentang kode etik, tentang standar jurnalistik, kemerdekaan pers, yang merupakan item-item penting dari pilar-pilar terpenting dari pers nasional.

Hal itu yang akan dibangun, dan dikuatkan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pimpinan Margiono.

Berikut ini kelanjutan dari petikan wawancara Mirza dengan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Margiono, di Gedung Dewan Pers, lantai 4, di Jalan Kebon Sirih, Jakarta, pada 3 Januari lalu, yang dikutip dari Buku Panduan Hari Pers Nasional 2012.

Apakah ada kerjasama dengan lembaga lain?

Iya, pasti-pasti itu, lembaga lain. Seperti perguruan tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat dan penerbit. Untuk penerbit ini yang paling penting karena dia yang punya wartawan dan ternyata banyak warga masyarakat dan tokoh-tokoh yang merasa punya kepentingan dan punya kepedulian terhadap profesionalisme wartawan. Mereka itu berkehendak dan punya keinginan wartawan memang harus professional agar citra wartawan lebih bagus dan pekerjaan wartawan dilakukan dengan yang terbaik menurut standar profesi.

Bisa disebutkan, selama dua tahun kepemimpinan anda di PWI, apa yang sudah dilakukan selain yang disebutkan tadi?

Sebenarnya banyak yang sudah kita lakukan. Cuma saya ingin lebih memfokuskan peningkatan profesionalisme sajalah. Karena ini memang lembaga profesi. Misalnya, hubungan dengan lembaga-lembaga profesi yang lain, dengan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan kelompok pers yang lain juga terjalin dengan baik, lebih sehat, lebih cair. Kita juga datang untuk menghadiri forum-forum yang bicara tentang pers. Kita juga mengundang pihak-pihak luar untuk berbicara dan memberikan kritik tentang pers. Sebaliknya kita juga datang ke forum-forum lain untuk memberikan masukan dan saran, kritik, tukar pikiran serta ide-ide, sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang bahwa memang kita sebagai penyampai informasi, memberikan edukasi, entertain, dan salah satu pekerjaan yang dibebankan undang-undang kepada pers adalah memberikan kritik-kritik sosial, itu bagian dari pekerjaan kita, itu kita sampaikan.

Soal banyaknya kasus yang dialami wartawan, bagaimana advokasinya?

Semua berjalan sebagaimana mestinya, kita kan punya lembaga konsultasi dan bantuan hukum, itu berjalan. Tapi, begini, saya tetap punya pendapat, profesionalisme-lah yang paling bisa membela wartawan. Kalau wartawan itu professional, sebenarnya dia telah membela dirinya sendiri. Bukan berarti lembaga konsultasi dan bantuan hukum tidak perlu. Tetap perlu, tapi pembelaan yang terbaik yang boleh dilakukan wartawan adalah membela dirinya sendiri dengan profesionalisme, dengan mematuhi kode etik. Sebenarnya kalau wartawan sudah professional dan mematuhi kode etik, tidak perlu takut-takut, karena dia sudah berjalan pada posisi yang benar, dia tidak akan dikomplain, dia tidak akan dilawan oleh orang. Sementara ada yang mengatakan ada undang-undang yang sampai mengancam pers. Kalau menurut saya, saya lebih memilih berkonsentrasi memperbaiki diri aja, seperti uji kompetensi dan kepatuhan pada kode etik. Saya lebih memilih konsentrasi itu, daripada mengurus hal-hal yang diluar kita. Karena itu perlu hal tersendiri lagi. Tapi dengan memperbaiki diri, maka sebenarnya wartawan sudah melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri.

Undang-Undang No 40 Tahun 1999 tentang Pers, apakah cukup efektif sebab banyak pihak menggugat wartawan dengan pidana?

Cukup efektif, Undang-Undang No 40 Tahun 1999 itu tidak melarang orang untuk menggugat lewat jalur hukum, karena masyarakat dilindungi oleh undang-undang yang lain. Tapi dianjurkan kalau kasusnya jurnalistik, produk pers, karya jurnalistik, sebaiknya menggunakan undang-undang itu yang sudah ada aturannya. Karena Undang-Undang Pers bukan satu-satunya. Kalau masyarakat tidak puas dan terkait ada unsur pidananya, ya, silahkan saja, tidak apa-apa dan pers tidak usah takut. Sepanjang berpegang pada kode etik, pers tidak usah takut. Nanti kan Pengadilan saya kira punya pandangan tersendiri tentang itu. Sepanjang professional, saya kira tidak akan dikalahkan jadi pers tidak usah takut.

Soal kesejahteraan wartawan bagaimana?

PWI saya kira tidak terlalu langsung terkait dengan kesejahteraan. Karena kesejahteraan itu tanggung jawab perusahaan pers, itu domainnya lain. Tetapi, kami punya asumsi bahwa dengan profesionalisme itu, maka seharusnya wartawan mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik. Wartawan makin professional, dia makin besar pendapatannya. Saya kira itu universal, hukumnya memang begitu. Wartawan gajinya rendah kan wartawan yang tidak professional. Kalau dia professional, tidak mau dong dia digaji rendah. Kalau professional tentu bisa diterima dimana saja. Karena semua pers juga membutuhkan wartawan yang terbaik. Ini logika umum yang harus dibangun. Mengapa wartawan baik bekerja di perusahaan pers yang jelek? Nah, pada sisi lain juga, harus ada perbaikan terhadap standar perusahaan pers, ada standar kesejahteraan wartawan, standar perlindungan wartawan, yang diatur Dewan Pers, itu terkait langsung dengan kemampuan dan fasilitas infrastruktur yang ada di perusahaan pers, jadi itu akan mengikat dan mengenal domainnya perusahaan pers. Tapi, kita mensupport wartawan agar lebih professional agar lebih mendapatkan kesejahteraan dan perlindungan yang baik.

Saat ini banyak sekali organisasi wartawan bermunculan. Menurut anda organisasi wartawan yang ideal itu seperti apa?

Itu semua ada pada ketentuan Dewan Pers yang sudah jadi kesepakatan kita. Seharusnya tiap-tiap organisasi wartawan dan organisasi profesi sudah mengurus soal profesionalisme. Sebenarnya makin banyak organisasi wartawan makin bagus. Sepanjang organisasi wartawan itu mengurus tentang profesionalisme, peningkatan kompetensi dan keterampilan, saya kira makin bagus. Bagaimana organisasi wartawan yang lain, saya bukan dalam kapasitas untuk menilai, itu Dewan Pers nanti yang akan menilai. Tapi intinya, beberapa organisasi wartawan, menurut saya baik, AJI menurut saya baik, IJTI juga bagus, yang sering berkomunikasi kan itu, dan ketepatan memang tiga organisasi wartawan (PWI, AJI, dan IJTI) yang sudah diakui oleh Dewan Pers sebagai organisasi wartawan yang memenuhi standar ketentuan dari Dewan Pers, organisasi lain mungkin dalam proses.

Rujukan negara lain soal organisasi ini bagaimana?

Macam-macam, tidak sama, tiap negara punya pola sendiri-sendiri. Seperti Malaysia, beda dengan Singapura, dengan Filipina. Mereka masing-masing berbeda. Kalau mana yang ideal, kita tidak bisa bilang mana yang ideal. Karena sebuah profesi, sebuah pekerjaan itu mau tidak mau, dia akan menyesuaikan dengan nilai-nilai dimana dia hidup. Seperti di Iran, yang menjadi pemrakarsa pertemuan pimpinan media disana, Menteri Informasi. Kalau disini kan, masak, Menteri menjadi pimpinan pertemuan forum pimpinan media, tentu tidak lazim. Tapi, di sana bagus-bagus juga, yang baik kita ambil manfaatnya. Jadi berbeda-beda. Satu negara tidak bisa mencontoh negara lain, karena nilai yang berkembang berbeda, koq.

Bagaimana dengan kemerdekaan pers?

Kemerdekaan pers di negara kita dengan di Amerika Serikat, misalnya, berbeda, karena nilai yang berkembang juga berbeda. Kalau di negara kita memang sudah bebas ya. Kalau kebablasan dimanapun bisa kebablasan. Tapi, menurut saya sangat merdeka.

Bagaimana rancang bangun PWI ke depan?

Rancang bangun pers nasional ke depan itu sama saja. Intinya membangun pers yang sehat. Kita merumuskan beberapa hal yang mendasar yang terkait dengan perkembangan pers nasional. Misalnya tentang kode etik, tentang standar jurnalistik, kemerdekaan pers, itu kan item-item penting dari pilar-pilar terpenting dari pers nasional, itu yang mau kita bangun, dan kita kuatkan. Nah, dalam proses perjalanan kesana, program-program yang sudah dikembangkan antara lain, pendidikan pers, standar kompetensi, perusahaan pers yang sehat, kode etik, perlindungan dan kesejahteraan wartawan, itu adalah pilar-pilar rancang bangun pers ke depan. Kita cari terus dan kita kuat kan itu.

Baca Sebelumnya: Rancang Bangun Masa Depan Pers Nasional

Afrizal/B21.Com