Yang Tersisa di Hari Pers Nasional 2012


Rancang bangun pers nasional ke depan itu, intinya membangun pers yang sehat.

Pengurus PWI merumuskan beberapa hal yang mendasar yang terkait dengan perkembangan pers nasional. Misalnya tentang kode etik, tentang standar jurnalistik, kemerdekaan pers, yang merupakan item-item penting dari pilar-pilar terpenting dari pers nasional.

Hal itu yang akan dibangun, dan dikuatkan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pimpinan Margiono.

Dalam proses perjalanan kesana, program-program yang sudah dikembangkan antara lain, pendidikan pers, standar kompetensi, perusahaan pers yang sehat, kode etik, perlindungan dan kesejahteraan wartawan, itu adalah pilar-pilar rancang bangun pers ke depan. “Kita cari terus dan kita kuatkan itu,” kata Margiono ketika ditemui usai rapat di Gedung Dewan Pers.

Nah, bagaimana cerita selanjutnya soal kiprah Margiono dalam memimpin PWI.

Berikut petikan wawancara Mirza dengan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Margiono, di Gedung Dewan Pers, lantai 4, di Jalan Kebon Sirih, Jakarta, pada 3 Januari lalu.

Bagaimana visi dan misi PWI ke depan?

Ke depan kita akan konsentrasi pada peningkatan profesionalisme anggota khususnya dan juga masyarakat pers atau wartawan pada umumnya. Profesionalisme itu ditandai dengan yang pertama, meningkatkan keterampilan jurnalistik dan kedua ditandai dengan kepatuhan kode etik jurnalistik. Jadi kesanalah PWI akan bergerak, dan memprioritaskan programnya.

Ada penekanan tidak, soal pendidikan, misalnya?

Iya, karena programnya itu peningkatan profesionalisme dan etik. Maka prioritas programnya adalah prioritas program pendidikan dan latihan, yang pada ujungnya adalah sertifikasi, sebagai tanda profesionalisme itu yakni uji kompetensi dan mendapatkan sertifikat. Jadi, pendidikan-latihan, bedah kasus, pemahaman-pemahaman tentang etik, pemahaman tentang kasus-kasus jurnalistik, problem profesi, penulisan, dan tanggung jawab. Jadi, kelak kita berharap semua wartawan Indonesia, apalagi anggota PWI, harus bersertifikasi yang dilakukan lewat uji kompetensi.

Targetnya sampai tahun ke berapa?

Iya, itu tentu tidak pernah berhenti, karena akan selalu ada wartawan baru dan anggota (PWI) baru, jadi akan terus-menerus begitu, dan sepanjang itu juga PWI akan terus berkonsentrasi untuk melakukan hal tersebut.

Langkah-langkah untuk mewujudkan visi dan misi itu apa?

Ya itu, kita lakukan pendidikan dan latihan. kita buka sekolah Jurnalistik. Setiap provinsi kita akan coba buka. Kemudian uji kompetensi terus kita lakukan, bedah kasus, dialog-dialog, safari jurnalistik, terus kita lakukan, terus.

Untuk mencapai visi dan misi itu butuh waktu berapa lama?

Iya, itu kan tidak pernah berhenti. Visi itu tidak pernah dicapai pada titik tertentu, dan problemnya kan akan terus berkembang. Misalnya, untuk program SJI (Sekolah Jurnalistik Indonesia) dalam lima tahun seluruh provinsi di Indonesia sudah punya Sekolah Jurnalistik. Kita berharap dalam lima tahun atau kepemimpinan terakhir saya di PWI, misalnya seluruh anggota PWI sudah ikut uji kompetensi dan bersertifikat, saya berharap begitu.

Apakah ada biayanya untuk sekolah jurnalistik itu?

Sekolah itu kita dirikan dengan kerjasama PWI Pusat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Pemerintah Daerah setempat. Jadi yang membiayai tiga lembaga ini. Mereka (peserta) tidak dipungut biaya. Pelatihan tidak hanya untuk anggota PWI, tapi terbuka untuk masyarakat luas, ada unsure pemda, humas, kita ajak ke situ. Kegiatan pendidikan itu sudah berjalan selama dua tahun belakangan ini.

Sebelum menjabat sebagai Ketua Umum PWI, bagaimana anda melihat PWI?

Iya, sebenarnya (PWI lama) sudah melakukan itu, cuma barangkali sekarang lebih diprioritaskan lagi. Mungkin dulu banyak kegiatan-kegiatan PWI. Tapi, saya lebih cenderung memprioritaskan dan menekankan tentang profesionalisme. Dulu juga dilakukan. Tapi, barangkali di masa saya ada sekolah jurnalistik untuk menandai bahwa ada standar profesi yang tinggi, ada pendidikan yang standar internasional, misalnya begitu. Dulu ada Kursus dan Latihan Wartawan (KLW) dan Safari Jurnalistik, itu pendidikan dan latihan juga, nah sekarang ada SJI (Sekolah Jurnalistik Indonesia) yang berstandar dan berkurikulum internasional dengan pengajar-pengajar yang bertaraf nasional dari wartawan-wartawan terbaik Indonesia. Sekarang ada progreslah, ada peningkatan. Terus selain SJI, ada uji kompetensi ini, jadi ini proses peningkatan dari yang dulu. Kalau dulu ada pelatihan-pelatihan jangka pendek dan sekarang lebih ditingkatkan lagi. Karena uji kompetensi sendiri, ada kelas utama, kelas madya, ada kelas utama. Jadi, kelas utama juga harus memiliki keterampilan yang berbeda dengan wartawan-wartawan muda. Sehingga ada perjenjangan yang lebih konkret lagi. Itu tuntutan dan kesepakatan di komponen pers, bukan hanya PWI, tapi masyarakat pers menghendaki itu.

(bersambung).

(Dikutip dari Buku Panduan Hari Pers Nasional 2012)

Sumber: Berita21.Com

 Afrizal/B21