Kantor Bahasa Provinsi Jambi Prihatin Perkembangan Penggunaan Bahasa Indonesia di Sekolah Favorit


Jambi-Berita21.Com: Kantor Bahasa Provinsi Jambi, sebagai UPT (Unit Pelaksana Teknis) di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang berkedudukan di wilayah Provinsi Jambi, mengaku begitu sangat prihatin dengan kondisi dan perkembangan Bahasa Indonesia di wilayah Kota Jambi khususnya, terutama di lingkungan sekolah favorit dan bonafit.

Seperti salah satunya di lingkungan RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasonal) SMP Negeri 7 Kota Jambi, yang sampai sekarang di sekolah tersebut lebih cenderung menggunakan bahasa asing, yakni Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar (PBM).

Demikian disampaikan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Yon Adlis, yang diwakili Kepala Tata Usaha Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Yarmalus menjawab kepada berita21.com di ruang kerjanya, Rabu siang (09/05/2012) di Jalan Arif Rahman Hakim No 101, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi ketika menanggapi pertanyaan media online ini tentang sejauhmana perkembangan penggunaan Bahasa Indonesia di lingkungan sekolah dan tenaga kependidikan di Kota Jambi, terkait pemahaman pelaksanaan undang-undang tentang kebahasaan sebagai bahasa pemersatu bangsa dan sekaligus sebagai bahasa negara di wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Mengapa demikian, dikatakan Yarmalus, pihaknya terus berupaya maksimal membina masyarakat di wilayah Provinsi Jambi untuk mengembangkan penggunaan Bahasa Indonesia dengan konsisten secara baik dan benar dalam perilaku hidup sehari-hari.

Baik itu, di kalangan mass media, di kalangan tenaga pendidik atau siswa/siswi dan mahasiswa/mahasiswi di dunia kampus maupun di kalangan akademisi/praktisi pendidikan, masyarakat Jambi pada umumnya dan pimpinan pemerintahan beserta aparatur pemerintahan di seluruh wilayah ‘Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah’ (julukan bagi Provinsi Jambi ini), paparnya.

Lebih lanjut, diakuinya, Kantor Bahasa Provinsi Jambi sekarang ini sudah melakukan jauh sekali terhadap pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia ke tengah masyarakat luas terutama di wilayah Provinsi Jambi, melalui beragam cara, diantaranya, yakni pembinaan dan pengembangan Bahasa Indonesia ke seluruh lingkungan pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten dan kota se-Provinsi Jambi, berupa pembuatan tata naskah dinas yang benar, pembuatan persuratan yang benar, serta melakukan penyuluhan penggunaan Bahasa Indonesia yang kaitannya dengan pembuatan persuratan di lingkungan kantor-kantor pemerintah daerah. kemudian langkah berikutnya, tambah Yarmalus, merambah ke kalangan akademisi/tenaga pendidik, siswa/siswi maupun mahasiswa/mahasiswi di berbagai perguruan tinggi di Jambi.

“Kita lakukan penyuluhan-penyuluhan bahasa kepada guru-guru Bahasa Indonesia, tentang sejauhmana peran dari guru-guru tersebut menguasai Bahasa Indonesia yang diajarkan kepada siswanya.

Sebab, setiap tahun perubahan-perubahan itu pasti akan terjadi berkenaan dengan faktor sumber daya manusianya. Guru-guru (para guru Bahasa Indonesia) harus meningkatkan sumber daya manusianya sendiri, jangan berjalan di tempat. Setiap hari harus belajar, belajar terus dengan cara memberikan penyuluhan dan penggunaan Bahasa Indonesia kepada para siswanya dengan baik dan benar,” papar Yarmalus menerangkan.

Ketika dikonfirmasi secara terpisah di ruang kepala sekolah RSBI SMP Negeri 7 Kota Jambi di Jalan A Thalib, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Humas RSBI SMP Negeri 7 Kota Jambi, Junarso membantah tudingan tersebut.

Junarso saat menjawab kepada berita21.com, ia menyebutkan konsep dalam ketentuan yang diterapkan di lingkungan RSBI SMP Negeri 7 Kota Jambi adalah SNP Ditambah X.

SNP Ditambah X, Artinya, papar Junarso, pihaknya tetap menggunakan ketentuan dalam SNP (Standar Nasional Pendidikan) yakni ketentuan di RSBI SMP Negeri 7 Kota Jambi ini, sama halnya dengan sekolah-sekolah Non-RSBI. Kemudian ‘Ditambah X’ kata Junarso, artinya kelebihan dari sekolah yang menyandang SBI dan RSBI.

“X, itu kelebihannya yang disebut dengan ciri internasionalnya,” sebutnya kepada media online ini, Rabu siang (09/05/2012).

Apa saja ciri internasionalnya. Junarso menyebutkan pembelajaran yang dilakukan di lingkungan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) dan RSBI, seperti RSBI SMP Negeri 7 Kota Jambi dalam pembelajarannya menggunakan perangkat teknologi komunikasi dan penggunaan dua bahasa (bilingual), yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

“Ciri-ciri internasionalnya, yakni ICT (Information Communication Technology). ICT ini, dalam pembelajarannya kita menggunakan perangkat-perangkat teknologi komunikasi. Pembelajarannya tidak hanya disajikan secara manual, tapi disajikan menggunakan alat-alat teknologi komunikasi. Misalnya, setiap kelas dilengkapi dengan TV (televisi) LCD, internet, DVD player,” demikian urainya.

Terkait penggunaan dua bahasa, masing-masing yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, yang dikembangkan di lingkungan RSBI SMP Negeri 7 Kota Jambi ini, papar Junarso, bertujuan untuk mempersiapkan para generasi muda, terutama anak didiknya untuk siap berkompetisi di era global sekarang ini.

Terkait penggunaan dua bahasa ini, kata Junarso, setiap anak didik mendapat porsi sesuai kelasnya masing-masing. Yang dirincikan, kembali diungkapnya, yakni di Kelas 7, perbandingan 70 persen menggunakan Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris hanya 30 persen. Kelas 8, Bahasa Indonesia 60 persen dan Bahasa Inggris 40 persen. Sedangkan di Kelas 9, perbandingannya 50 persen Bahasa Indonesia dan 50 persen bahasa Inggris.

Justru sangat prihatin memang perkembangan penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan dunia pendidikan terutama di kalangan tenaga pendidik dan pelajar maupun mahasiswa di Provinsi Jambi, seperti yang diungkapkan oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Yon Adlis, melalui Kepala Tata Usaha Yarmalus kepada media online ini.

Menurut Yarmalus, pihaknya menilai perkembangan Bahasa Indonesia itu semakin dikesampingkan di kalangan anak didik saat ini, atau yang lebih ekstrimnya lagi, kata Maryalus, sangat terpinggirkan oleh Bahasa Inggris. “Ini yang harus dikoreksi” katanya.

padahal, sebut Yarmalus, Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara Republik Indonesia, sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

“Hasil pemantauan kita, di RSBI SMP Negeri 7 (Kota Jambi), sudah menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Guru matematikanya pun sudah menggunakan Bahasa Inggris dalam proses belajar mengajar kepada seluruh siswanya,” tuturnya.

Penilaiannya, tambah Yarmalus, dari hasil penelitian dan pemantauan oleh Kantor Bahasa Provinsi Jambi selama ini, justru di kalangan pelajar siswa/siswi di sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) yang sering menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari di lingkungan sekolah maupun dalam pergaulannya.

“SD (sekolah dasar) dan SLTP (sekolah lanjutan tingkat pertama) belum begitulah,” terangnya.

Afrizal/B21