Menhut Ambil Alih Investor Jateng Park


SEMARANG, berita21.com – Penentuan soal investor Taman Wisata Jawa Tengah Jateng Park saat ini ditangani oleh Menteri Kehutanan. Hal ini disebabkan besarnya nilai investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan taman wisata yang akan menjadi yang paling besar di Asia Tenggara ini sangat besar, berkisar antar Rp. 1 – 2 triliun.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengungkapkan, Jawa Tengah hanya ketempatan dan membantu proyek tersebut. “Sudah diambil alih Menhut, yang mencari investor juga beliau, yang mengorganisir dana juga beliau, kami hanya kanggonan saja dengan lahan milik Perhutani,” kata Gubernur Sabtu (2/6).

Bibit menambahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kesulitan mencari investor yang memiliki kemampuan besar mengingat proyek Jateng park memiliki standar internasional, Sehingga  ditangani langsung oleh menteri.  pihaknya berharap sebelum berakhirnya masa tugas Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua, proyek prestisius ini sudah selesai dikerjakan.

Sementara itu ditanya mengenai keberadaan investor PT Bhotan Raharjo Properindo (BRP) yang sudah melakukan studi kelayakan dan rencana pengelolaan, Bibit Waluyo menegaskan bahwa BRP sudah jelas ditolak oleh Menteri kehutanan. Menurut Bibit, Menhut telah memberikan klarifikasi bahwa dengan modal sebesar Rp 90 miliar yang dimiliki oleh PT Bhotan tak akan cukup untuk membangun proyek besar tersebut.

Sementara itu pihak PT Bhotan menolak dikatakan perusahaanya tak kredible untuk membangun dan mengelola Jateng Park. Konsultan PT Bhotan Ir Budiono menyatakan angka Rp 90 miliar yang disiapkan tersebut adalah sesuai dengan kesepakatan dalam buku pedoman sebagai dasar MoU dengan Perhutani dan hasil kajian pasar.

“Dalam buku pedoman itu disebut kesepakatan angka investasi tahap pertama adalah Rp 80 – 94 miliar dengan akselerasi tiga tahun kemudian meningkat menjadi Rp 200 miliar dan pada empat tahun berikutnya nilai investasi di atas Rp 550 miliar,” kata Budiono.

Angka Rp 90 miliar itu menurutnya muncul dari perhitungan rasio investasi dengan memtok Rp 100 miliar harus kembali pada 10 tahun. Dengan target itu setiap tahun harus mampu saving sebesar Rp 10 miliar, dan dengan perhitungan profit 45 persen maka omzet yang harus didapatkan Rp 22,22 miliar per tahun.

“Artinya income per bulan harus Rp 1,85 miliar atau Rp 74 juta per hari. Tapi pakah mampu dengan buying force mencapai Rp 74 juta/hari. Dan setelah mempelajari jaringan pasar internasional PT Bhotan mendapatkan angka maksimum Rp 50 juta/hari,” tegasnya.

Kholis/B21