Budaya Baca Ditengah Perlawanan Televisi: Ketika Budaya TV, Kian Menanamkan Paruhnya (1)


Jambi, Berita21.com – Pulau Sumatera, diawal pergerakan kebangkitan memiliki peranan yang sangat penting dalam peta perjuangan melawan kolonialisme di negeri ini. banyak tokoh-tokoh muda anti penjajah, yang sangat berani secara tegas melakukan perlawanan melalui pergerakan-pergerakan politiknya. Meski tantangan nyawa harus dihadapi, walau penjara pengasingan di Boven Digoel, Papua –pulau ujung Timur Indonesia, itu menunggu. Mereka sama sekali tak gentar. Pusat-pusat pergerakan itu, berpusat pada sentra ruang pendidikan yang ada. Beberapa kota-kota penting, tumbuh menjadi pusat peradaban pendidikan modern sekaligus basis perjuangan rakyat.

Ada pendidikan ala Eropa, yang dibuka oleh Belanda, semisal MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yakni Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesia, atau sekolah praja. Tidak terbatas hanya sekolah yang didirikan bangsa kolonial semata, sekolah-sekolah rakyatpun tumbuh. Salah satunya, pendidikan Islam nasional, yakni Perguruan Islam Thawalib dan Diniyyah di Padang Panjang, Minangkabau, Sumatera Barat, atau beberapa kota lainnya. Dimana pusat-pusat pendidikan ini, membuka cakrawala alam berfikir anak muda ketika itu, untuk mengusung ‘Indonesia Satu, Indonesia Merdeka’.

Apa yang menyebabkan terjadinya pergolakan, dan terjadinya perjuangan menuju cita-cita luhur itu? Barangkali kita semua akan setuju yaitu dengan dibukanya cakrawala berfikir generasi muda zaman itu, melalui pendidikan dengan budaya baca, membaca perubahan dan perkembangan zaman. Koran-koran dan penerbit sudah mulai merebak, merangsang setiap generasi muda ketika itu, untuk membaca. Jika di wilayah di Indonesia, belum seberapa memiliki media-media untuk bacaan rakyat. Maka di Sumatera, khususnya di bagian Barat umumnya sudah memiliki banyak media bacaan, seperti di Padang Panjang sudah terbit koran Pemandangan Islam (didirikan Djamaluddin Tamin), Djago-djago (Natar Zainuddin, 1923), Koran Signal, dan beberapa jurnal seperti Jurnal Islam Al Munir.

Di Sawahlunto juga terbit Suara Tambang dan Jurnal Panas, yang terbitannya hingga mencapai sepuluh ribu oplah. Suatu angka yang begitu fantastik, untuk melihat semangat baca generasi masa itu. Tidak hanya itu saja, di Padang juga terbit koran-koran seperti Bintang Timoer dan Timoer Baru. Di Bukittinggi juga bermunculan beberapa penerbit, semisal ‘Fort de Kock’ yang menerbitkan bacaan-bacaan sastra, salah satunya Pacar Merah karya Tan Malaka, yakni sebuah novel yang sangat termasyur waktu itu, dan menjadi bacaan banyak orang.

Gayung bersambut, Tan Malaka yang juga salah seorang aktivis revolusioner ini –melanglang buana dalam pelarian panjangnya ke berbagai belahan dunia, dia juga aktif mengirimi ranah minang kampong halamannya dengan famflet dan jurnal-jurnal yang ia terbitkan sendiri untuk dibaca agar wawasan saudara-saudaranya di kampong halaman melamapaui dunia tanpa batas. Salah satu famfletnya itu, tercetus ide De Repoeblik Indonesia (menuju Republik Indonesia) dalam sebuah brosurnya yang ia terbitkan di Canton (China) pada akhir 1924, dan disebarluaskannya ke saudara-saudaranya di Minangkabau dengan cara terselubung (karena memang ketika itu, sangat dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda) untuk menuju perjuangan Indonesia Merdeka.

Dari fragmen sejarah ini, kita menyadari betapa bacaan dan budaya baca, ternyata pada awal masa pergerakan nasional mampu merubah paradigma berfikir generasi waktu itu. Paradigma pemikir yang mulanya terbelakang dan stagnan, berubah menjadi progresif dengan melahirkan ide merubah nasib sendiri, dengan cara dan tangan sendiri agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang hidup merdeka sebagai salah satu prinsip dasar HAM (Hak Asasi Manusia) sebagai suatu bangsa yang berdaulat. Tidak hanya itu saja, budaya baca juga melahirkan banyak sekali tokok-tokoh yang kemampuannya tidak hanya diakui di nusantara tetapi dunia. Misalnya saja, Mohammad Hatta, Agus Salim, Tan Malaka. Muhammad Natsir, Sutan Sjahrir, Mohammad Yamin, dan sederet nama-nama lainnya, dimana mereka lahir, dan ada karena dikaruniai dengan budaya gemar membaca.

Apa yang penulis ulas tersebut, adalah kejayaan masa lalu yang selalu masih menjadi kebanggaan kita sebagai orang Indonesia. Kenyataannya, sekarang kita masih dihadapkan dengan berbagai masalah pelik. Salah satu permasalahan, yakni sebuah pertanyaan yang kerap mengganggu kita. Masihkah kita dianggap sebagai daerah ‘industri otak’? Banyak orang Indonesia kasak-kusuk, ketika kualitas keintelektualannya mulai diragukan. Banyak orang Indonesia mulai gaduh, ketika kadar kecerdasannya diyakini memudar ditelan zaman. Mereka sudah lemah, dan sudah kalah bersaing.

Lagi pertanyaan muncul, kenapa mutu pendidikan Indonesia harus berada di tangga bawah. Ironis bukan, sebuah negeri yang dulunya termasuk negeri dengan sekolah-sekolah tertua dan tersohor seantero negeri. Lihat saja, dulu pendidikan di Diniyyah Padang Panjang, yang santrinya tidak saja berasal dari Minangkabau, akan tetapi juga datang dari berbagai pelosok negeri di nusantara hingga Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Hal ini menandakan, Indonesia sudah menjadi pusat pendidikan terbaik. Namun kenyataannya di era sekarang, peringkat dan mutu pendidikan di negeri ini, masih pada angka yang belum memuaskan. Tentu saja, banyak factor penyebabnya namun demikian tentu secara jelas ada kaitannya dengan budaya baca.

Taufik Ismail, dalam sebuah orasi kebudayaannya, yakni yang berjudul ‘Membebaskan Anak Bangsa dari Rabun Membaca dan Pincang Mengarang’ pada 23 Desember 2008 silam di Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) Padang. Taufik Ismail menyatakan keprihatinannya terhadap krisis budaya baca di Indonesia akhir-akhir ini, dengan istilah ‘Generasi Nol Buku, Generasi Rabun Membaca dan Generasi Lumpuh Menulis’ .

Ada beberapa hal mendasar, yang dapat saya tangkap dari tulisan (teks pidato) Pak Taufik Ismail –secara tegas, ia cukup berani dan sangat keras (kiranya menurut hemat saya) dia dalam paparannya di awal pidatonya menyatakan kegundahannya, kerisauannya, dan bahkan kekhawatiran hatinya akan nasib generasi Indonesia hari ini, dan esok. Beliau menyatakan, bahwa beribu-ribu manusia Indonesia yang menamatkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas (SMA), semenjak pengakuan kedaulatan RI pada 1950 hingga sekarang justru menjadi Generasi Nol Buku yakni generasi yang rabun membaca dan lumpuh menulis. Nol Buku, karena tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan sekolah, sehingga dikatakan rabun membaca. Lumpuh menulis, karena hampir tak ada latihan mengarang di sekolah.

Kiranya pernyataan tersebut, bukanlah hal yang mengada-ngada atau sekedar ‘sesumbar’ Taufik Ismail belaka, tanpa ada hal yang mendasari atau alas an yang mendorong beliau mempertengahkan pernyataan itu. Sebab wacana ‘Generasi Nol Buku’ dimunculkan pertama kali oleh Taufik Ismail, setelah beliau melakukan serangkaian penelitian, observasi sekaligus wawancara terhadap tamatan SMA di Indonesia. Dia juga, sekaligus membandingkannya dengan 13 negara yang lainnya di dunia. Penelitian itu pun dilakukan Taufik Ismail, dalam rentang waktu yang cukup lama, yakni antara Juli-Oktober 1997. Sehingga dimunculkan beberapa temuan yang cukup mengejutkan, bahwa sejak 1950-an hingga sekarang ini, terjadi penurunan yang cukup tajam tentang kewajiban membaca dan menulis di SMA di Indonesia.

Bahkan bila dibandingkan dengan semasa zaman sekolah AMS (Algemeene Middelbare School) Hindia Belanda –setara dengan pendidikan SMA saat ini, sangat jauh sekali terjadi penurunan akan aspek membaca dan menulis itu. Pada zaman AMS Hindia Belanda, antara 1939-1942, dimana setiap siswa diwajibkan membaca buku 25 judul dalam masa 3 tahun. Sementara untuk menulis, mereka diwajibkan menulis satu karangan seminggu, jumlahnya sama dengan 18 karangan selama satu semester, 36 karangan setahun, dan 108 karangan selama 3 tahun. Lalu kita bandingkan dengan masa SMA zaman sekarang ini, bagaimana? Taufik Ismail, dalam pidatonya menyatakan bahwa kegiatan mengarang di SMA sekarang ini tidak lebih dari 3-5 kali selama setahun. Bahkan banyak SMA, yang cuma sekali setahun. Ini sangat mengkhawatirkan sekali, demikian ungkap Taufik Ismail melihat perkembangan mengarang dilingkungan SMA sekarang ini.

(bersambung)

(Ditulis oleh Taufik Hidayat, pemenang Juara Pertama Anugerah Eka Tjipta Foundation Award for Teacher 2012 bidang Penulisan Opini Pendidikan).

Afrizal/B21