Inilah Profil Kemiskinan di Provinsi Jambi (3)


Jambi, Berita21.com – Seperti diungkapkan sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Akhmad Jaelani menyebutkan Garis kemiskinan (GK) dari tahun ke tahun selalu berubah sejalan dengan perubahan nilai pengeluaran penduduk.

Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan) di wilayah Provinsi Jambi pada Maret 2012 lalu, yakni mencapai 271,67 ribu jiwa. Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011, yang berjumlah sebesar 272,67 ribu jiwa, atau 8,65 persen. Berarti, jumlah penduduk miskin di Provinsi Jambi turun sebesar 1.000 jiwa.

Kembali ia paparkan, menurut Akhmad Jaelani dalam rilis berita resmi statistik dari Kantor BPS Provinsi Jambi pada Juli 2012 yang diperoleh berita21.com, Jum’at (13/07/2012) di Kota Jambi, pada periode di Maret 2012 lalu, Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan menunjukkan kecenderungan meningkat dibandingkan dengan periode Maret 2011. Hal ini, ditambahkannya, memberikan indikasi bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin menjauhi garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin melebar.

Akhmad Jaelani menjelaskan masih di dalam rilisnya, permasalahan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari tingkat kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan penanggulangan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan yang dialami penduduk.

Indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan, ungkapnya adalah Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (Distributionally Sensitive Indek) yang dirumuskan oleh Foster-Greer-Thorbec (FGT).

Lebih lanjut, Akhmad Jaelani menerangkan bahwa ‘Poverty Gap Index’ merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Angka pada ‘Poverty Gap Index’ ini, yang semakin mendekati 0 menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan. Sementara ‘Distributionally Sensitive Indek’ memberikan gambaran penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. Angka pada ‘Distributionally Sensitive Indek’ ini, yang semakin mendekati 0 menunjukkan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin secara umum semakin kecil.

Pada Maret 2012 lalu, nilai pada ‘Poverty Gap Index’ untuk perkotaan sebesar 1,50. Sedangkan di perdesaan sebesar 1,09. Sementara untuk nilai pada ‘Distributionally Sensitive Indek’ di Maret 2012, untuk daerah perkotaan sebesar 0,357 lebih tinggi dibandingkan nilai Poverty Gap Index-nya di perdesaan yakni sebesar 0,26.

Dapat disimpulkan bahwa kesenjangan pengeluaran penduduk miskin wilayah perkotaan di Provinsi Jambi ini, kata Akhmad Jaelani menambahkan masih disebutkan di dalam rilisnya, kesenjangannya terhadap garis kemiskinannya justru lebih tinggi dari pada di perdesaan, dan penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin di perkotaan lebih bervariasi atau heterogen dari pada di perdesaan, demikian urainya.

Sumber: Berita21

Afrizal/B21