Yudhi K Bachri : Kisah Pak Ali dan Sejarah Sport Hall Jelutung Jambi (1)


Yudhi Krama Bachri, -yang akrab disapa Iduy kepada berita21.com saat bertandang di kediamannya di Jalan Jendral A Thalib No 11, Kelurahan Simpang IV Sipin, Kecamatan Telanai Pura, Kota Jambi, Selasa sore (04/09/2012). Dia mau berbagi cerita tentang kisah sejarah Gedung Sport Hall Jelutung dan bekas Gedung Perpustakaan Kota Jambi yang kini menjadi obyek sengketa lahan antara Pemerintah Kota Jambi dengan pihak Sudarto Attan, hingga berujung ke Pengadilan Tinggi Jambi. Pasalnya Pemerintah Kota Jambi mengajukan banding atas kekalahannya dengan pihak Sudarto Attan pada tingkat pertama di Pengadilan Negeri Jambi, 25 April 2012 lalu.

Untuk diketahui, status tanah yaitu bekas Gedung Sport Hall dan bekas Gedung Perpustakaan Kota Jambi yang total areal luasannya mencapai 9.890 meter persegi, yang berada di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Provinsi Jambi –yang hingga saat ini berujung ke ranah hukum dan bergulir di Pengadilan Tinggi Jambi menuai sorotan dan protes dari kelompok dan elemen masyarakat, serta beberapa lembaga dan aktivis penggiat anti korupsi di Kota Jambi.

Iduy -yang juga tokoh pemuda Kota Jambi, kelahiran 53 tahun yang lalu, yang lahir di lokasi Komplek Kehutanan yang pertama kali berdiri di Provinsi Jambi, berada di daerah Karang Anyar, Simpang Pulai, Kota Jambi sekarang ini. Menurut ceritanya, keberadaan Gedung Sport Hall Jelutung, kata Iduy, adalah lokasi olah raga permainan bulu tangkis yang paling terkenal saat itu. “Terkenal Sport Hall Jelutung, namanya,” sebut Yudhi, yang juga seorang pengusaha ini.

Yudhi Krama menyebutkan, dia biasa bermain disana ketika diusianya masih berumur 12 tahun, bersama-sama dengan teman-teman semasa kecilnya dahulu, seperti Deraman Cengkong (kini pengusaha), Emon (pedagang sukses), dan banyak lagi yang lainnya, yang sampai sekarang temen-teman kecilnya itu masih tetap bersahabat.

Yudhi menceritakan, saat–saat yang paling diingatnya, ketika sepulang sekolah sampai di rumah, lalu dia belajar mengaji di Surau (Langgar/Musholla sekarang, red) bersama-sama dengan teman kecil itu, dan langgarnya pun masih ada hingga sekarang ini, namanya Langgar Karang Anyar, Simpang Pulai, demikian tuturnya.

Sebelum ia pulang ke rumahnya, setelah belajar mengaji di Langgar Karang Anyar. Malah dia manfaatkan waktunya untuk bermain ke Sport Hall Jelutung Jambi. Untuk menuju ke Gedung Sport Hall Jelutung, tambah Yudhi menjelaskan, dari arah rumahnya di Karang Anyar menuju kesana, dia harus menempuh perjalanan kaki dan menyeberangi anak Sungai Batang Hari, yaitu Sungai Maram dengan berenang, atau pakai rakit ketika itu.

“Dari rumah ke anak Sungai Maram saja, lebih kurang 5 kilometer. Pulang-balik. Itulah jarak tempuh yang terdekat, dan ketika itu memang tidak ada angkutan umum untuk sampai ke Sport Hall Jelutung,” katanya.

Perberhentian terakhir di wilayah pinggir Sungai Maram saat itu, di lokasi ini telah berdiri sebuah rumah makan khas masakan Padang, namanya Rumah Makan Aroma Cempaka yang terkenal di Kota Jambi ini. Kemudian itu, masih dikatakannya, dari lokasi Rumah Makan Aroma Cempaka ini, dia dan teman-temannya mesti menempuh perjalanan kaki sejauh lebih kurang 2 kilometer ke Gedung Sport Hall Jelutung, melalui jalan setapak di daerah Kampung Manggis Atas, dengan lebar jalan setapak 2 meter, dan masih berupa tanah merah, begitulah kondisi jalan setapak ketika itu.

Apalagi kalau turun hujan, sebutnya, jalan itu menjadi becek dan sulit dilalui. Tapi Yudhi kecil dan teman-temannya, tetap semangat untuk menempuhnya ke Sport Hall Jelutung. “Karena tidak ada alternatif lain untuk bermain,” ucapnya.

Setibanya mereka di Gedung Sport Hall Jelutung Jambi, kebiasaan kecilnya bersama-sama dengan teman akrabnya ketika itu, mereka menemui (almarhum) Pak Ali, seorang penjaga Gedung Sport Hall Jelutung. Mereka meminta izin terlebih dahulu kepada Pak Ali, untuk memungut bola-bola bulu tangkis bekas yang sudah dimainkan orang. Kemudian mereka, melanjutkan dengan menonton aksi-aksi orang yang sedang bermain bulu tangkis di dalam gedung Sport Hall hingga selesai.

Kemudian mereka lantas meminta izin untuk pamit pulang kepada Pak Ali, selesai menonton. Tampak mereka bergembira, sambil membawa bola-bola bekas bulu tangkis tadi, pulang ke rumah dengan perasaan senang, dengan menempuh perjalanan kaki sejauh lebih kurang 7 kilometer hampir setiap harinya.

Bola-bola bulutangkis bekas tersebut, ungkap Yudhi, mereka gunakan untuk bermain di halaman rumahnya di Karang Anyar dengan teman-teman, dengan menggunakan fasilitas yang seadanya di halaman rumah. Mereka bentangkan benang plastik sebagai ‘netting’ (tali pembatas) untuk bermain bulu tangkis.

Raket yang mereka gunakan pun begitu sangat sederhana sekali, katanya, yakni hanya berupa kayu bulat yang menyerupai seperti raket aslinya dari ide hasil kreatif mereka saat membuatnya. Suara bunyinya pun terdengar ‘kletak-kletok’. Bunyi ‘kletak-kletok’ itu, sebut Yudhi, kerap terdengar nyaring bunyinya setiap kali raket kayunya itu diayunkan mereka kala bermain, demikian ceritanya.

Mereka asik sekali bermain bulutangkis kletak-kletok (bola bertemu dengan raket kayu sehingga terdengar kletak-kletok). “Ayo, kito bermain kletak-kletok, yukk,” ajakan Yudhi kecil kepada teman-temannya. Yudhi kecil dan temannya selalu bermasalah dengan bola bulu tangkis, karena bola yang dipakainya bola bekas dimainkan orang di Sport Hall sehingga cepat hancur.

“Itulah masalahnya, saya sering ke Sport Hall Jelutung,” ucapnya. Itulah niat tujuan utamanya, Yudhi kecil dan teman-temannya sering ke Sport Hall Jelutung Jambi, yang kini menjadi polemik di tengah masyarakat di ‘Bumi Tanah Pilih Pesako Betuah’ -julukan untuk Kota Jambi ini, ketika putusan Hakim Pengadilan Negeri Jambi memenangkan gugatan yang disampaikan oleh Kuasa Hukum Sudarto Attan pada 25 April 2012. (bersambung).

Sumber: Berita21.com