Yudhi K Bachri: Kisah Pak Ali dan Sejarah Sport Hall Jelutung Jambi (2)


Niat Yudhi dan teman-teman kecilnya bermain di Sport Hall Jelutung Kota Jambi, adalah untuk mengambil bola-bola bulu tangkis bekas yang dimainkan orang di dalam gedung tersebu, dan bola-bola bekas tadi, oleh dia dan teman-teman kecilnya bermain ‘kletak-kletok’ di halaman rumah orang tua Yudhi di daerah Karang Anyar, Simpang Pulai.

“Itulah masalahnya, saya sering ke Sport Hall Jelutung,” ucapnya. Itulah niat tujuan utamanya, Yudhi kecil dan teman-temannya sering ke Sport Hall Jelutung Jambi.

Siapakah sebenarnya, sosok Pak Ali yang diingat oleh Yudhi Krama Bachri ini. Pak Ali itu, adalah seorang yang paling dihormati Yudhi kecil. (Almarhum) Pak Ali, menurut Yudhi, adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dibuktikannya dengan pakaian seragam PNS yang sering dikenakan Pak Ali setiap harinya, dengan pakaian warna coklat tua, dan dia kerap memakai sepatu olahraga saat di dalam gedung Sport Hall. Karena profesinya itu, Pak Ali ditunjuk oleh Pemerintah Daerah Kota Jambi untuk menjaga gedung Sport Hall Jelutung.

Justru itu, makanya Yudhi kecil sangat menghormati Pak Ali karena dia seorang pamong. “Saat itu, saya sangat hormat sekali dengan (almarhum) Pak Ali. Karena dia sebagai pamong. Memakai seragam PNS, menggunakan lambang KORPRI, lencana KORPRI, dan sepatu olah raga, tinggi besar, dan juga atletis,” ungkapnya.

Diakuinya, sosok (almarhum) Pak Ali sangat disiplin dan bertanggung jawab. Contohnya, sebut Yudhi, ketika aktifitas permainan olah raga bulu tangkis sedang berjalan, sambungnya, sosok Pak Ali itu, dia tak henti-hentinya berjalan dan mengelilingi lapangan arena bulu tangkis, dan dia selalu menjaga kebersihan Gedung Sport Hall Jelutung, demikian paparnya.

Yang paling sangat berkesan di hati sanubari Yudhi kecil sampai sekarang ini, katanya, Pak Ali adalah sosok yang selalu murah senyum bila bertemu kepada siapa pun, dan dia sangat bertanggung jawab kepada tugasnya, serta baik hati.

“Saya selalu ‘diunjuknya’ (diberikan) bola-bola bulu tangkis bekas oleh Pak Ali. Kalo kito datang, dia selalu tersenyum dan menerima kita. Dan lebih senangnya lagi, bahwa Pak Ali selalu memberikan bola-bola (bulu tangkis) bekas. Kito tu, nunggu. Duduk sambil menonton orang main. Bola-bola bekas orang main dikumpulkan oleh Pak Ali, dan dio berikan kepada sayo dan teman-teman,” ucapnya, dengan logat khas Jambi.

Tugas lain Pak Ali, tambah Yudhi lagi, dia sangat bertanggung jawab kepada keamanan seisi gedung Sport Hall Jelutung. Kemudian, ia pun bertanggung jawab kepada kegiatan dan aktifitas olah raga bulu tangkis yang sedang berjalan permainannya. Kemudian ia juga bertanggung jawab untuk membersihkan lapangan dan menutup gedung Sport Hall Jelutung itu. “Diolah, juru kunci Sport Hall Jelutung waktu itu,“ kata Yudhi.

Saat Yudhi remaja seusia 20 tahun ketika itu, kehidupannya diisi dengan kegiatan kelompok vocal group gelanggang remaja ‘Sanak Serumpun Jambi’ dibawah pembinaan Oki, Kutong dan Hasyim Us.

Sedangkan Oki dan Kutong ini, kata Yudhi, adik beradik kandung dan merupakan putra mantan Gubernur Jambi, Tambunan. “Merekalah yang menggerakkan Gelanggang Sanak Serumpun Jambi ketika itu,” imbuhnya.

Kelompok ini sangat sering menggunakan fasilitas Sport Hall Jelutung untuk ajang kompetisi para vocal group dan kesenian yang ada di Provinsi Jambi, dan selalu berhubungan dengan (alamarhum) Pak Ali. Oki dan Kutong sekarang ini, berdomisili di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Hasyim Us, kini tinggal di Kota Jambi, sebagai saksi hidup sampai sekarang.

Yudhi Krama Bachri, sangat terkejut ketika mendengar gedung Sport Hall Jelutung dan bekas Gedung Perpustakaan Kota Jambi itu, bisa berujung ke pengadilan hingga sekarang ini.

Setahu Yudhi, apa yang dia lihat dan dia alami saat pengalaman hidup kecilnya, dari segi bentuk bangunannya pun itu adalah milik Pemerintah Kota Jambi. Karena, kata Yudhi, keberadaan sosok (almarhum) Pak Ali disana sebagai juru kunci Gedung Sport Hall Jelutung, juga Pak Ali merupakan pegawai negeri sipil yang bertugas disana, tuturnya.

“Jadi tidak mungkin, swasta yang punyo. Jadi tidak mungkin, dan gedung Sport Hall Jelutung dan juga bekas gedung Perpustakaan itu, harus kembali kepada Pemerintah Kota Jambi,” ujarnya memberikan alasan.

(Bersambung)

Sumber: Berita21